Hinata Umi's Work

[ARTIKEL] Cara Menulis Cerpen #3: Mengembangkan Alur Menjadi Cerita Utuh


"Manusia mengetahui apa yang terpenting untuk mereka. Apa yang terpenting untuk protagonismu? Baik secara umum maupun di dalam adegan yang sedang kau tulis."



-Janice Hardy dalam "5 Ways To Bring Your Descriptions To Life"-

* * *

Artikel ini adalah artikel terakhir dari Seri Cara Menulis Cerpen. 


Hai, teman-teman~

Sudah berapa alur cerita yang kamu buat dari ide yang sama? Apakah cukup banyak untuk membuat lebih dari tiga cerita? Satu juga belum dapat?  Hayooo ... jangan lanjut baca bagian ini kalau kamu belum punya plot cerita yang bisa kamu kembangkan, ya.

Nah, sekarang kita lanjutkan pembahasan kita kemarin. 

Di artikel sebelumnya kita sudah belajar bagaimana mengubah ide menjadi plot atau kerangka cerita. Pertanyaannya sekarang adalah Bagaimana cara mengubah plot atau kerangka cerita menjadi cerpen yang utuh?

Mari kita coba tarik kembali, kemarin kita sudah membuat plot seperti apa dari ide Secangkir kopi pahit dan Roti Bakar Gosong.  Berikut plot yang sudah kita buat:

  1. (Pengenalan) Hari ini anniversary pernikahan suami dan istri
  2. (Pengenalan) Suami ingin memberi kejutan pada istri dengan memasakkan sesuatu untuk sarapan mereka pagi ini
  3. (Pengenalan) Sayangnya suami tidak bisa masak
  4. (Konflik awal) Suami berselancar mencari resep di internet
  5. (Konflik awal) Dia mencoba masak mengikuti resep sambil menyeduh kopi
  6. (Konflik) Sayang, dia terlalu fokus membaca resep sampai ia lupa masakannya gosong
  7. (Konflik) Saat dia mulai mau memasak lagi dari awal, istrinya sudah bangun
  8. (Penyelesaian) Terpaksa dia menyajikan kopi pahit dan roti gosong itu pada istrinya sambil mengucapkan maaf
Jika kita lihat, sebenarnya kerangka di atas adalah cerita yang utuh, tapi sayangnya kita tidak merasa dekat dan tidak merasa terlibat di dalam cerita itu.  Sebagai pembaca, maukah kamu disuguhkan dengan cerita seperti itu? Tentu saja tidak, bukan?

Sebuah cerita disebut cerpen jika ia merupakan cerita yang memiliki satu konflik utama dan dapat dibaca dalam sekali duduk (sekitar 15menit hingga satu  jam). Ia juga disebut sebagai cerpen jika ia memiliki unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah cerita, seperti penokohan, latar, alur, tempo, dan lain sebagainya.

Berdasarkan definisi di atas, maka kerangka kita jelas belum memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai cerpen.

Maka dari itu, plot di atas akan kita ubah menjadi format cerita lengkap dengan dialognya. Perhatikan Umi membuat setiap poin dalam bentuk adegan. Satu poin menggambarkan kegiatan apa yang dilakukan oleh setiap tokoh yang terlibat di dalamnya. 

Mari kita ambil satu poin, Hari ini anniversary pernikahan suami dan istri. 

Tunggu!
Ada yang aneh. Bagaimana pembaca bisa merasa dekat, jika kita tidak memperkenalkan siapa tokoh kita pada pembaca? Maka ada satu hal yang belum terjawab dengan lengkap pada pertanyaan di artikel yang lalu.  

Siapa tokoh utamamu? Well, Umi melewatkan bagian itu di artikel sebelumnya. Jawabannya adalah suami dengan nama Toni dan istri bernama Rika. 

Kita ulang lagi, ya. 

Mari kita ambil satu poin, Hari ini anniversary pernikahan Toni dan Rika. Kita olah poin ini menjadi sebuah adegan utuh. Caranya bagaimana? Di sinilah, kreatifitas imajinasi kita ditantang. Sekarang, bayangkan apa saja yang bisa terjadi saat pasangan mengingat bahwa hari itu adalah hari peringatan pernikahan mereka. 

Yep! Banyak!

Misal:
  • Bisa saja Toni mengingat ulang tahun pernikahan mereka saat bangun tidur dengan wajah kaget,
  • Bisa saja Toni mengingat ulang tahun pernikahan mereka setelah melihat foto pernikahan mereka,
  • Bisa saja Toni mengingat ulang tahun pernikahan mereka setelah mendegar istrinya mengigau,
  • dan banyak lagi contoh lainnya.
Sebagai contoh, Umi mengambil poin "Bisa saja Toni mengingat ulang tahun pernikahan mereka setelah melihat foto pernikahan mereka" yang akan Umi kembangkan lebih lanjut menjadi cerita.

Yuk, simak adegan dari poin satu kerangka di atas versi Umi:

Toni membuka matanya. Ia mengerjap dan mengucek matanya sekali, berusaha membersihkan kotoran matanya setelah puas bermain semalaman bersama Rika,istrinya yang begitu nyenyak tidur di atas dada bidangnya yang tidak tertutup. 
Toni tersenyum begitu mengarahkan pandangannya pada sebingkai foto besar yang terdapat tepat di seberangnya. Foto pernikahannya dengan RIka tepat tiga tahun yang lalu. Ya,  hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.  (63 kata)

Bagaimana? Tidak begitu buruk, kan?

Nah, lakukan proses yang sama untuk setiap poin di dalam alur cerita yang sudah kamu buat.

Apakah dalam satu poin harus ada satu adegan? Apa boleh lebih?

Tergantung kebutuhan. Tapi tidak ada batasan berapa adegan yang harus kamu tulis dalam satu poin. Manfaatkan saja untuk menambah luas ceritamu.

Lalu, apakah ada batasan?

Ada. Ingat bahwa cerpen biasanya berukuran 1500-5000 kata atau kalau di transfer dalam jumlah halaman sekitar 10-20 halaman A4 huruf Times New Roman 12pt spasi 1.5pt dengan margin normal. Maka, sesuaikan cerita dan adegan kalian mengikuti batasan itu.

Tips dari Umi, biasakan untuk membuat target jumlah kata per-poin di plot kalian. Misalnya, kalian diminta untuk membuat cerpen dengan jumlah maksimal 1500 kata. Maka, jika kita memakai plot di atas ada 8 poin, Umi akan menulis per-poin 187 kata.

Bagaimana kalau dalam proses menulis, saya tidak menemukan satu pun imajinasi yang bisa dipakai untuk mengolah poin tersebut menjadi adegan?

Tidak masalah. Ingat bahwa poin-poin di dalam plot yang kamu buat sebelumnya masih bisa berubah tergantung kebutuhan cerita. Jika kamu merasa salah satu poin yang kamu buat malah tidak membantu imajinasimu untuk bergerak liar, kamu bisa menggantinya dengan hal lain.

Tips dari Umi, biasakan memperhatikan kejadian-kejadian di sekitar kamu. Contoh cerita Toni bangun tidur di atas, Umi adaptasi dari beberapa novel yang sudah Umi baca sebelumnya. Jadi, jangan takut untuk bereksplorasi.

Bagaimana jika hasil jadi cerpennya, walaupun sudah mengikuti plot, terlalu sedikit atau melebihi batas ia bisa disebut cerpen?

Tidak masalah. Dalam proses penulisan, ada tahap-tahapnya. Tulis saja semua ide yang muncul di kepalamu terlebih dahulu. Setelah selesai, kita sebut itu draft awal. Draft inilah nanti yang akan kamu ubah, kamu sunting, kamu sesuaikan dengan batasan-batasan yang diinginkan.

Tips dari Umi, tegalah saat membuang adegan-adegan yang tidak perlu. Penyakit dari setiap penulis adalah, sayang dengan adegan yang sudah tertuang. Padahal, kadang adegan tersebut tidak terlalu berpengaruh ke konflik utama.



Nah, sampai sini, apa ada pertanyaan?  Jika ada tuliskan di kolom komentar, ya~

P.S: Umi akan mengubah plot di atas menjadi cerita utuh di artikel minggu depan.

Sabar menanti, ya!

* * *

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.