| "Sesuatu yang indah selalu berada di tempat yang sulit dijangkau. Intan yang bagus, harus digali bermeter-meter jauhnya di bawah tanah. Mutiara yang berkualitas harus diselami bermeter-meter jauhnya ke dasar lautan. Begitupun, wanita yang indah, harus disembunyikan sedalam-dalamnya dalam balutan hijab yang baik." - Kata seorang gadis yang hijabnya belum rapih, 2015 - ---
Aku sudah ke Kebun Raya Bogor lebih dari lima kali. Sampai sebanyak itupun aku masih merasa, tempat ini adalah tempat favoritku menghabiskan waktu dan menenangkan diri. Hijaunya dedaunan, sejuknya udara, bersihnya lingkungan, mampu membersihkan hatiku yang keruh dan berjelaga atas lelahnya aktifitas sehari-hariku yang menuntutku untuk melakukan lebih. |
Hinata Umi's Work
"Maka nikmat tuhan yang manakah yang kau dustakan?"
- Ar-rahman :13 -
- Ar-rahman :13 -
---
Sebenarnya, Kalau Uum ingat-ingat lagi, perjalanan ini Uum lakukan pada awal tahun 2014. Sekitar bulan Februari. Sebenarnya target Uum saat itu adalah menaiki menara Monumen Nasional. Sayang, saat itu sedang ada renovasi menara, sehingga akses menuju lift dan tangga ditutup oleh pihak Monumen Nasional.
"Dan ketika bumi berputar pada porosnya. Dan ketika kehidupan berjalan dengan seimbang. Dan ketika matahari, bumi dan bulan tidak menentang kodratnya. Keindahan inikah yang membuatmu lalai, Um?"
- Murobbi pertamaku, Kak Fida -
Kalimat itu pertama kali terucap oleh bibir seorang wanita perkasa yang kini tak tahu di mana rimbanya. Aku pertama kali mengenalnya saat kelas 1 SMA. Di Medan tentu saja. Itu pertama kalinya aku mengenal dunia tarbiyah. Dunia yang dijauhkan dariku karena memang kondisi pada saat itu sangat tidak memungkinkan bagi seseorang untuk belajar dan membuat majelis keilmuan. Majelis keilmuan islam terutama. Kondisi masyarakat masih paranoid dengan sistem pemerintahan orde baru yang 'menghabisi' semua kegiatan-kegiatan yang dianggap 'memberontak'. Tak terkecuali orang tuaku.
“Sesungguhnya kaum beriman itu bersaudara”.
- Al Hujurat : 10 -
Perjalanan kali ini disponsori oleh keinginan Poetri dan Amaya berkunjung ke tempat kedua temannya di Bandung. Berkunjung dan menyambung kembali silaturahim dengan sahabat mereka kala SMA, Teguh A.Yassi (a.k.a Ayung) dan Sheppriola Vonia (a.k.a Yola). Uum tadinya tak berniat ikut karena ada paper yang Subhanallah harus dibaca demi kelanjutan skripsi Uum.
Sayangnya, waktu itu ada sedikit masalah dengan hati Uum yang membuat apapun yang Uum lakukan tidak fokus. Saat itu Uum akhirnya paham bahwa Uum harus melakukan refreshing. Menghilangkan sejenak kebosanan, menghindari sejenak kegalauan. Menghilang sejenak dari orang-orang yang membuat hati Uum resah itu. Wal hasil, Uum memutuskan untuk ikut ke Bandung.
"Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka."
- As-Shad (38) : 27 -
Perjalanan ini Uum lakukan bareng CUDJ (Cindy, Uum, Deris dan Johansyah) pada tanggal 3 November 2013 kemaren. Saat itu jalan-jalan kami lakukan karena pada stress. Ada yang stres karena tugas, ada yang stres karena kerjaan, ada yang stres karena skripsi, ada yang stres karena hal yang misterius. Jadi semuanya pada stres dan butuh untuk refreshing. Setidaknya dari kehidupan penuh manusia di Depok. Kehidupan yang membuat kita tak dapat melencengkan mata sedikitpun dari penuhnya jalan raya, tugas dan segepok pekerjaan lainnya yang selalu menunggu tanpa kenal lelah.
“Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).”
- QS. Ali Imran : 185 -
Museum Taman Prasasti sebenarnya bukan museum di Jakarta yang pertama kali aku kunjungi. Kalau diingat, museum Layang-layanglah yang mendapat kesempatan pertama itu. Namun, museum ini adalah museum yang paling berkesan untukku. Museum ini mengingatkan aku dengan betapa dekatnya kematian. Betapa aku tak bisa menghindarinya dengan cara apapun. Betapa aku tak akan bertemu dengannya meski sangat ingin dan betapa aku akan segera menemuinya meski tak ingin.
Dari Madinah, (yang belum baca cerita Uum di Madinah bisa baca di Jurnalku Di Negeri Para Nabi : Madinah) Uum meneruskan perjalanan Uum ke Mekkah. Ingat, niat untuk ber-Umroh sudah Uum lakukan di Bier Ali, Madinah. Sebenarnya, menurut tour guide Uum, selama niat ber-Umroh dilakukan di luar Tanah Haram (Mekkah), Umroh-nya sah. Namun, akan lebih baik jika mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah Salallahu A'laihi Wasalam. :)
Lalu, dari situlah, cerita Uum di Mekkah, dimulai.
Mekkah, tempat di mana Rasulullah dilahirkan. Kota di mana
Beliau dinobatkan menjadi Rasul oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Kota di mana
hampir semua orang memusuhinya. Termasuk keluarga dan sukunya sendiri. Kota yang menjadi
saksi betapa hinanya beliau diperlakukan oleh kaum Quraish sekaligus menjadi
kota penutup perjalanan dakwah Rasulullah.
Sungguh tak terkira betapa banyaknya tempat bersejarah di kota ini. Sungguh, tak terkira pula banyaknya saksi bisu perjalanan dakwah Rasulullah Salallahu A'laihi Wasalam di kota Mekkah. Dari banyak itu, berikut adalah tempat yang mampu Uum kunjungi :
Madinah, Kota di mana Rasulullah menggunakan tangannya sendiri saat membangunnya. Kota yang menjadi pusat dari kebangkitan islam pada masa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa salam. Kota ini dahulu menjadi kota pertama yang menyambut islam dengan tangan terbuka. Dimana kaum Anshar dan kaum Muhajjirin akhirnya bertemu dan berkeluarga dipersatukan dalam indahnya Islam. Kota ini adalah saksi perjuangan Rasulullah dalam membangun peradaban dari nol hingga menjadi puncak kejayaannya pada Fathul Makkah.
Oke, setelah Uum menapak tilas kembali beberapa postingan Uum belakangan ini sepertinya dipenuhi dengan berbagai kegalauan yang tidak sehat untuk temen-temen yang baca. Maka dari itu, Uum akan membuat Mini jurnal, jalan-jalan Uum selama di Negeri para Nabi. Tadinya, catatan ini ingin Uum ceritakan secara langsung kepada teman-teman yang ingin tahu. Namun ternyata, saat bercerita, kebanyakan orang ingin mendengar ceritanya dari awal hingga akhir. Tak ada yang suka dengan cerita yang acak. Sementara Uum, termasuk yang sulit bercerita secara runut jika tidak melalui tulisan. Jadi, dari situlah, tulisan ini berawal.
Oke, setelah Uum menapak tilas kembali beberapa postingan Uum belakangan ini sepertinya dipenuhi dengan berbagai kegalauan yang tidak sehat untuk temen-temen yang baca. Maka dari itu, Uum akan membuat Mini jurnal, jalan-jalan Uum selama di Negeri para Nabi. Tadinya, catatan ini ingin Uum ceritakan secara langsung kepada teman-teman yang ingin tahu. Namun ternyata, saat bercerita, kebanyakan orang ingin mendengar ceritanya dari awal hingga akhir. Tak ada yang suka dengan cerita yang acak. Sementara Uum, termasuk yang sulit bercerita secara runut jika tidak melalui tulisan. Jadi, dari situlah, tulisan ini berawal.