Malam Minggu
-Hinata Umi-
Malam minggu
Aku menunggu Sang Rembulan berdetak menemani gelap
Lagu-lagu sendu tentang cinta kuputar
Apalah daya, air mata turun pula, menambah sendu
Menambah lara atas hilangnya detak Sang Rembulan
Menunggu, ku masih saja menunggu
Indahnya lalu lalang sejoli yang saling menjamah hati
Namun tak jua memupus rinduku pada Sang Rembulan
Gusar hati, masih menanti cahaya indah di langit kelabu
Gelenyarnya pun tak ada
Untuk apa sebenarnya aku menunggu?
Bekasi, 21 Juli 2018
Pada setiap derap tanya yang membuncah
juga pada setiap langkah kaki yang menderu
Lalu pada hembusan angin yang menelusup di antara pepohonan
juga pada setiap riak air yang bergerak perlahan
Pula pada setiap nafas yang terhirup kala senja datang
Hangat
nyaman
tenang
Apabila mentari mulai tenggelam, singsingkan lengan
Menyatulah pada rangkaian cinta
juga menyatu atas tarian kehidupan
juga menyatulah pada alam
mungkin dengan begitu
sedikit limpah rahasia Tuhan akan tercurahkan
Hembusan angin menjamah dedaunan. Membawa aroma kesedihan bercampur lara yang tak lagi mampu tertahan. Apa sebenarnya mau hidup jika tak bisa mengoyak tabir dan takdir yang belum terungkap?
Masih di sini. Berusaha memahami tarian rembulan menarik bintang. Mencoba untuk paham, siapa yang memulakan cahaya. Siapa pula yang memulakan suara. Tetapi, kelu. Tak dapat dirasa, tak dapat diraba. Hanya tarian lembut dari bintang di tengah malam purnama.
Harus apa? Sedangkan tak lagi terlihat bumi ikut menari. Senja pula hanya bisa menangis. Riak air hanya dapat mendebur karang. Bebatuanpun tak lagi mampu menembuhkan ilalang.
Tolong! Hanya kata itu. Lalu kemana? Lalu siapa? Lalu apalagi? Sedang di sini duduk temangu. Menunggu. Tak tahu harus mulai dari mana.
Menyerah. Pada rumput dan ilalang yang masih berusaha untuk tumbuh di kerasnya bebatuan. Pada angin yang berusaha mengoyak lembutnya dedaunan. Pada senja yang sebentar lagi karam.
Lelah.
Tehmu, Tehku, Teh Kita
-Hinata Umi-
Teh ini, teh rasa hati
hatiku, hatimu, hati kita
manis memabukkan lidah
manis yang menggoda dan menggelitik
sedikit, tidak berlebihan
cukup untuk selalu kita kenang bersama
cukup untuk selalu kita sentuh dalam desahan hati kita yang selalu liar
layaknya lidah kita yang saling menari dan bersatuit membuat penasaran,
menggetarkan rasa dan cinta
meruntuhkan bumi pujangga
membuat kita mengawang di antara bumi dan kahyangan
menari bersama awan-awan
bersenda gurau dengan para burung-burung yang berterbangan
dibanjiri kehangatan Sang Mentari
dan keringat kita sendiri.
Sayang,
apakah keterlaluan jika aku ingin semua saat bersamamu tak pernah berlalu?
abadi, layaknya Sang Waktu yang tak membiarkan sedikitpun kita berhenti
Sayang,
apakah keterlaluan jika aku katakan
bahwa aku suka rasamu
suka mencecap asa dan cinta yang kau berikan?
suka meminum madu yang kau suguhkan?
apakah keterlaluan?
dan...
apakah aku boleh meminta lebih dari ini?
Bekasi, 17 Juli 2018
Kau bertanya padaku mengapa tatapan mataku begitu pilu. Katamu aku
bagai sedang menghunuskan belati pada jantungmu setiap kali mata
kita bersinggungan.
Kau tahu?
Aku sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaanmu itu tak
mampu menghapus kegusaranku. Bukannya kau tak tahu pilu itu
penyebabnya apa. Belati itu dari tangan siapa. Bukan pula kau tak
tahu rasa terhujam itu muncul karena apa.
Sayang, kau hanya tak mau tahu. Kau katakan segala bulan dan
bintang akan satu di penghujung waktu. Tidak kukatakan. Bintang
telah lama meninggalkan bulan. Bahkan jauh sebelum Bulan menculik
sinarnya.
Bintang mana yang kau maksud?
Bulan mana yang kau panggil?
Adakah gerangan hati paham apa yang menyembuhkan luka penuh
tatap?
Dalam rona merah keemasan, kata-kata manis itu menari ke udara. Janji-janji masa depan penuh asa. Melukis langit. Mengukir awan. Berhembus perlahan. Mewarnai satu demi satu guratan masa depan.
Tentang cincin itu. Tentang seberapa beratnya dibanding cinta. Hanya segitu. Tak terlalu banyak. Cuma segitu. Tak seberat itu.
Tentang mahar yang mengggurat masa depan nama-nama dan keturunan. Tentang ladang tempat bercocok tanam. Tentang gubuk tempat berlindung. Tentang kompor. Tentang sayur. Tentang pakaian. Tentang kecantikan dan ketampanan.
Lalu terukir bias. Cinta mendebur asa dengan realita. Sesat.
Kata tinggal debu. Semuanya luntur jadi abu.
Kemanakah lagi kaki harus melangkah jika tak ada lagi penuntun? Kemana? Sedang janji yang tergurat di awan terhembus angin. Sedangkan lukisan di langit sana sudah tersapu badai hitam. Sedangkan... kata-kata itu sudah menari, pergi.
Sesat. Kemana laagi kaki ini harus melangkah, Sayang?
Ada saat dimana aku ingin mati
Benar-benar ingin mati
Menutup mata
Mengakhiri semua keresahan dan sesak yang tak mampu kuungkapkan
Aku lelah sayang
Tak mampukah kau melihat itu?
Aku lelah dengan sikapmu
Apa salahku?
Kau mendiamkanku layaknya aku hanyalah abu
Itu menyakitiku
Ya Allah,
Aku cemburu
Aku cemburu pada mereka yang kauberikan kelebihan
Aku cemburu pada apa-apa yang tak kumiliki
Aku cemburu pada gadis ceria di masa lalu yang tersenyum pada hujan
Aku ... cemburu
Aku cemburu, ya Allah, aku cemburu
Pantas, kah, aku cemburu?
----
Commuter Line, 5 Desember 2019
Kau dan aku punya masa yang berbeda
Kau pada masa-mu
Aku pada masa-ku
Kita punya masa depan yang berbeda
Ya aku tahu itu
bahkan sejak hari pertama kita menyatakan untuk bersatu.
Karena itu sahabatku
Janganlah kau sesali apa yang telah terjadi
Bergeraklah
Teruslah melaju
Belajarlah.
Suatu saat nanti,
Jika kita memang dikehendaki bersatu
Kita akan bertemu lagi
Tidak di sini
Surga yang menanti
Politik itu jahat, Teman. Aku sudah melihat perpecahan tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Bahkan ayat-ayat penyembuh pun tak lagi bisa digunakan untuk mengobati hati yang terlanjur terluka karena kecewa.
Mereka terpecah-belah, terbiaskan penilaiannya, terlupakan, tertuduhi, terlukai, terkhianati oleh ekspektasi.
Dan, semua itu demi apa?
Demi rakyat kecil, katanya.
Demi rakyat kaya, katanya.
Bohong!!! Bohong!!!
Semua itu bohong!!!
Omong kosong!!!
Semua itu hanya atas nama dan alias dari ego mereka sendiri yang tidak mau kalah. Ego atas keinginan menyelamatkan diri sendiri.
Dan, sibuklah mereka berkata ini dan itu. Membela diri. Lalu menyalahkan. Lupa dunia ini sementara. Lupa bahwa yang hidup akan meninggalkan memori.
Politik itu jahat, Teman.
Dan aku, kamu dan mereka adalah korbannya.
Komputer, 5 September 2019
Ini Jumat.
Tapi tak seperti biasa.
Dulu aku berteriak riang mencari di mana lembaran-lembaran sakral itu berada, mencari cerita tentang tujuh pemuda di dalam goa.
Dulu aku berteriak gembira, mencari pemulung yang lewat di depan halaman rumah, memanggil mereka memberi makan
Dulu aku duduk di atas selembar kain, menutup seluruh tubuhku, dan membaca buku kumpulan cerita yang diceritakan dari masa ke masa.
Dulu aku begitu ...
Ini Jumat.
Tapi, aku tak lagi menyambutnya dengan sakral.
Ada apa?
Mengapa?
Sejauh itukah aku sudah berpaling?
Aku
sebongkah khayal yang menyebrangi semesta
menembus batas yang telah digariskan
melupakan segenap keindahan yang telah tercipta
Asa
tak bertuan memeluk kesepian diri
Hampa
Mencoba mengais harap yang pupus cenderung putus
Andai
mencoba bermimpi tapi tak bertali untuk menjembatani
Lupa
hilang ingat,harap, asa, mimpi, memori.
Boks Khayal, 2018-11-19
Menjadi muslim itu harus Fanatik.
Fanatik tidak hanya pada cara berpakaian
Fanatik tidak hanya pada cara beribadah
Fanatik tidak hanya pada amal, ibadah dan perintah yang disuka saja
Kita harus fanatik pada ajaran muslim secara keseluruhan
Bahwa ketika ada perintah untuk berdakwah
Ada peringatan tegas untuk mengutamakan keluarga dekat dibanding yang jauh
Bahwa ketika ada perintah untuk beramal akhirat,
Ada perintah juga untuk beramal dunia dengan niat ibadah.
Bahwa ketika ada perintah untuk menuntut ilmu akhirat,
Juga ada perintah untuk menuntut ilmu dunia demi kemaslahatan umat
Bahwa ketika ada perintah untuk menyerang
Ada catatan dengan huruf besar dan ditebalkan bahwa kita hanya boleh menyerang untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam jiwa secara langsung
Bahwa ketika ada perintah untuk memerangi kaum kafir
Kita juga harus melihat bahwa perintah itu dilaksanakan ketika kondisi sedang perang, ketika kondisi kita tidak ada dalam kesepakatan damai
Jangan Fanatik pada enaknya saja
Jangan Fanatik pada yang tidak enaknya saja
Fanatiklah secara keseluruhan
Karena dengan kamu berfanatik ria setengah hati, apa yang kamu pahami malah akan menghancurkan umat yang sudah dididik untuk tidak agresif oleh Rasulullah.
Dengan Fanatik setengah hati, kamu membuat saudaramu bagai onggokan bunga bangkai yang baunya tidak tertahankan bagi orang yang menghirupnya
Dengan Fanatik setengah hati, kamu membuat saudaramu membunuh sesamanya
Dengan Fanatik setengah hati, kamu membuat kita semua binasa
Mangarai, 14 mei 2018
Hinata Ummi
Kadang, kau melupakan kenyataan bahwa apa yang kau lihat tidak seperti apa yang mereka katakan. Tersenyum seindah bunga di pagi hari musim semi. Lalu berkata baik-baik saja. Padahal tak mampu lagi sudah menahan sakit dan peri di dada hingga akhirnya mati rasa.
Mereka berkata kita semua oke kok. Kita begini dan begitu. Lalu seperti ini dan seperti itu. Tapi kau lupa bahwa cerita memiliki bingkai subjektifitas. Bingkai yang menutup penglihatanmu dari cerita utuh. Bingkai yang hanya membiarkanmu melihat isi bingkai bukan apa yang sesungguhnya terjadi.
Ingat film Marlena? Kisah nyata kupretmu! Mana ada kisah nyata di tangan sutradara. Bahkan cerita yang mereka suguhkan adalah subjektifitas sutradara atas cerita yang ada. Kau kira mereka senaif itu memunculkan seluruhnya ke permukaan? Apa kabar pasar?
Mana ada pasar yang suka dengan penderitaan. Pasar hanya tahu mereka butuh asupan. Asupan drama. Lalu ketika mereoa tahu ada apa di balik bingkai itu sebenarnya, di balik subjektifitas itu sebenarnya, mereka hanya akan diam dan berkata ...
"Semangat ya!"
Tanpa bisa berbuat apa-apa!
Bacot!!!!!!!!!
Beranjak tidur Kutatap matamu yang terpejam damai
Mengingat kembali cengkrama renyah kita sore tadi tentang gaya apa yang sedang tenar
Malam semakin larut
Tapi aku masih di sini
Tak jua bisa memejamkan mata
Terus menerus mengingat senja jingga yang perlahan memerah
Terus memeluk bayangmu dalam resah dan gundah
Malam jua semakin pekat
Mataku tak mampu terpejam
Ingin memanja padamu
Ingin menyapu air mata
Ingin memeluk rasa cinta dan mendekap kenangan
Sambil berharap kau mendapat kebahagiaan
Di sana
Bersama-Nya
Lahan yang kau beli semakin mengering. Pernahkah kau peduli untuk menyiraminya?
Lahan yang kau beli semakin usang. Perlahan tak laagi sesubur ketika kau membelinya. Pernahkah kau terpikir ia butuh pupuk yang sehat?
Pun jika kau memupuknya dengan baik, bagaimana pula ia akan menghidupkan sedang tak satupun bibit kau tanam disana
Pun jika kau memupuknya dengan baik, bagaimana pula ia akan menghasilkan buah yang enak jika kehidupan yang kau berikan tak terawat dengan baik?
Lahan ini bukan hanya tempat kau bersinggah lalu pergi begitu saja
Lahan ini bukan hanya tempat kau duduk, diam lalu pulang.
Lahan ini adalah tempat kau bersenda gurau dalam balutan cinta
Lahan ini adalah tempat basah yang perlu kau pupuki.
Perlu kau rawat dengan kasih dan gelora hasrat.
Lahan ini adalah tempat dimana cangkulmu mesti berpacu dengan hangatnya mentari.
Lahan ini adalah tempat yang harus kau olah. Bukan hanya untuk kau diami begitu saja sedang kau menganggapnya seolah yang penting ada.
Lahan yang penting ada
Ya, lahan yang penting ada.
Tak peduli lahan itu kering
Tak peduli apabila lahan itu tandus
Tak peduli jika lahanmu butuh pupuk
Tak peduli jika lahanmu ini butuh bibitnya
Tak peduli jika lahanmu ...
Ah, sudahlah ...
Memang pada dasarnya bukan kau yang membutuhkan lahan ini
Lahan ini yang butuh kau
Lahan ini yang butuh kau
Lahan ini yang butuh kau
Lahan ini yang butuh kau
Ya ... lahan ini yang butuh kau.
Yang penting punya lahan, bukan?
Mana ...
Bagaimana mungkin malam selalu cepat berlalu?
Bagaimana mungkin ia tak mengjinkanku untuk menikmati sendu gelapnya?
Bagaimana ..
Bagaimana mungkin ia benar-benar cepat berlalu?
Ia berlalu begitu saja, berlalu seolah tak ada lagi janji yang harus ia tepati.
Ia berlalu seolah tak ada lagi dedaunan yang menunggu untuk ditetesi embunnya.
Ia berlalu seperti lupa bahwa banyak kembang sedang menanti madunya hilang mengembun.
Ia ... berlalu begitu saja.
Melupakan ada begitu banyak nyawa yang butuh untuk diberikan nafas
Melupakan ada begitu banyak raga yang dahaga akan embunnya
Begitu saja seolah mati hanya satu dari sekian banyak bagian yang memang mesti terlewati
Ah ... sudahlah.
Lelah
Mungkin memang malam berlalu agar aku tak lagi ingat
Apa yang ada ...
Perasaanku benar-benar campur aduk
Tanah, air, bisa, pohon, dedaunan, hujan, susu, kopi, angin, badai, cinta
Lalu terbuang percuma
Melambaikan tangan lalu menghempas ke alam
Menatap hidup lalu tak tahu arah kemana
Galau.
Tak mengapa jika memang tak lagi meriah
Tapi kesepakatan harus bertemu.
Mengapa semua hilang?
Butuh pun tak dihiraukan?
Adakah cinta memupus kalbu
Atau kalbu yang memupus cinta
Jelaskan!!
Jelaskanlah!!
Kacau!!
Semua kacau!!
Satu tambah satu tak lagi sama dengan dua
Tapi entah kenapa ...
Akar empat ...
Masih saja merapat
Hujan ...
Katamu Hujan sama seperti Cinta.
Menunggu dia datang sama sulitnya seperti menunggu dia berhenti. Kau hanya bisa berharap. Kau hanya bisa menunggu tanpa melakukan apa-apa. Menatapnya tanpa benar-benar terlibat langsung dengannya. Sebisa mungin untuk tak tersentuh. Karena kala kau tersentuh hujan, maka kau akan basah.
Resikonya terlalu besar. Itu katamu. Kita bisa sakit. Itu katamu. Kita bisa menangis. Itu katamu.
Maka dari itu, kau memilih menjauhkan diri dari Hujan.
sama seperti saat kau memilih untuk menjauhkan diri dari Cinta.
Tapi.
Dia berkata yang berbeda. Dia selalu membersamai hujan.
Katanya, Hujan sama seperti Cinta.
Ia akan datang ketika ia ingin. Berhenti kala ia ingin. Daripada menunggu, katanya, lebih baik menerobosnya saja. Toh kalaupun basah kita bisa minum obat bersama. Toh kalaupun menangis kita bisa berpelukan lalu bersama membahasnya. Daripada menunggu, katanya, lebih baik kejar hujan itu. semampu kita. Membersamainya, bukan hanya menatapnya tanpa terlibat. Bagaimana mungkin kita berharap tak basah sedang kita mencinta. Itu katanya.
Resikonya besar. Tapi bukan berarti tidak dilakukan. Hanya pengecut yang berlindung dari hujan. itu katanya.
Tapi ...
Aku ... berbeda dari kalian. Menunggu dan menerobos adalah dua hal yang harus dilakukan dalam Hujan ataupun Cinta.
Kataku, Hujan sama seperti Cinta.
Tunggu ia untuk datang, ketika mendung menjelang, bersamailah. Ketika benar-benar deras, menunggu saja, bersantailah sejenak. Tapi jangan dalam diam. Bahkan dalam Hujan pun kau masih bisa melakukan sesuatu, belajar misalnya? Baca buku misalnya? Mengaji misalnya? Menulis misalnya?
Bagiku, Hujan adalah perpaduan antara menunggu dan bergerak.
Kau bisa menunggunya berhenti ataupun menunggunya datang sambil bergerak melakukan sesuatu.
Begitu pula cinta. Menunggu dalam diam? huh? Omong kosong!!!
yang ada, menunggulah dalam gerakmu yang tak terhenti.
Bekasi, 31 Januari 2018
Andai ada permainan waktu dalam hubungan kita, maka waktu sungguh permainan yang kejam.
Kita dipertemukan lalu dipisahkan seolah tak bersua.
Sekeras apapun kita berusaha untuk bersatu bukan juga satu yang kita tuju.
Aku mencoba melepas segala rasa yang muncul,
tapi lalu hati berkata lain.
Aku mencoba untuk menendang kebencian,
tapi cinta merengkuh damba harap yang tercipta erat.
Aku mencoba memupus gelap,
tapi lalu terang menghangatkan tubuhku yang kedinginan.
lalu aku harus apa?
sedang kita tak jua satu tujuan.
apa yang harus kulakukan? saat aku berusaha tapi tak berujung ingin. APA?
KU INGIN TIDUR ...