Hinata Umi's Work

Who Is The Special One?

"Jadi, semuanya dapat perlakuan yang spesial ya, Um? Berarti... ga ada yang spesial dong ya?"

- Rendi Datriansyah, September 2014 -
Pertanyaan ini keluar dari salah satu seniorku di BOR. Sebuah komunitas kepenulisan yang sudah hampir tiga tahun ini kuikuti. Sudah hampir lebih separuh orang yang kukenal selalu memprotes gaya pertemananku yang membuat semua orang merasa 'spesial'.

Sebenarnya, spesial dalam definisiku itu gampang. Perlakukan orang-orang di sekitar dengan perlakuan yang memang mereka butuhkan. Bukan yang tidak mereka butuhkan. Perlakukan mereka dengan sesuatu yang memang akan berguna untuk mereka. Bukan dengan sesuatu yang mubazir.


Daripada spesial, aku lebih memilih kata berbeda. Pasti ada duplikat. Aku mengakui bahwa aku memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda. Lebih karena setiap orang memiliki masalah yang berbeda serta memiliki sifat yang berbeda pula. Karenanya, aku memperlakukan mereka dengan berbeda.

Ada yang butuh untuk didengarkan. Ada yang butuh untuk dinasehati. Ada yang butuh untuk di judge. Ada yang butuh untuk dilemparkan ke jurang. Ada yang butuh untuk dimarahi. Ada yang butuh untuk diapresiasi. Ada yang butuh untuk diberikan senyuman. Ada pula yang butuh untuk diperhatikan. Ada juga yang butuh untuk diberikan pengertian. Ada yang butuh untuk dicintai. Intinya, semua orang memiliki kebutuhan khusus.

Aku, memilih untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka itu.

Sayangnya, tak semua orang mengerti akan pilihanku. Banyak yang akhirnya bertanya, "Lalu, yang paling spesial di antara mereka siapa?" dan pertanyaan itu selalu kujawab dengan "tak ada." Mau kujawab adapun, siapa? Aku tak ingin ada yang benar-benar spesial hingga sudah halal.

Lalu, jika ditanyakan, kapan aku berhenti?

Sejujurnya, aku tidak ingin berhenti. Mengapa? Karena sesungguhnya kebutuhan yang kupenuhi akan membantu mereka untuk dapat lebih menghargai diri sendiri. Menghargai kehidupan mereka. Sayangnya, sekali lagi, tak banyak yang bisa mengerti pilihanku ini. Bahkan mungkin, suami kelak.

Lalu, apakah kau akan berhenti jika telah memiliki suami?

Sepertinya tidak! Namun untuk menjaga perasaannya, mungkin aku akan mengubah metodeku saja. Aku akan tetap membantu orang-orang di sekitarku memenuhi kebutuhan mereka, selama aku masih mampu dan itu tidak di luar koridor 'wajar' menurutku.

Mendengar. Mengapresiasi. Memberikan senyum. Memperhatikan. Mengerti. Menasehati. Men-judge. Memarahi. Melemparkan ke jurang.

Semua itu masih dalam koridor 'wajar' bukan?

Setidaknya untukku begitu. :)

Karena aku, memang ditujukan dan dihidupkan di dunia ini untuk membuat nyaman hati-hati yang gelisah.

Jadi, jika ada yang bertanya "Who is the special one?"

Jawabanku adalah, "My family."

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.