Hinata Umi's Work

Catatan Menjelang Ramadhan : Mari Ngedumel :3

"Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku."

- Al- Kaafirun : 6 -

Ramadhan tinggal menghitung hari. Lagi. Tiap tahun kita selalu menghadapi bulan yang penuh berkah ini. Tak kecuali siapapun. Baik muslim maupun yang beragama lain. Yang muslim berpuasa, yang beragama lain, menjalani aktifitasnya seperti biasa. Begitulah seharusnya. Tak ada satu yang mengganggu kehidupan yang lainnya. Seperti yang tergambarkan dalam 109:6.

Mengapa Uum mempublikasikan mengenai hal ini? Oke sedikit penjelasan, belakangan di sosial media yang Uum gandrungi, merebak isu negatif tentang kegiatan para muslim di Indonesia selama bulan Ramadhan. Kegiatan-kegiatan tersebut dianggap, yah, merugikan penganut agama lain yang bukan muslim. Apa saja kegiatan-kegiatan tersebut? Berikut mungkin beberapanya :
  • senandung Al-Qur'an kala menjelang buka puasa
  • suara gaduh tengah malam kala menjelang sahur
  • penutupan 'paksa' para pedagang makanan dan hiburan malam kala Ramadhan
  • pengharaman berjualan makanan tidak halal selama Ramadhan berlangsung



Contoh-contoh di atas, hanya beberapa saja. Masih banyak hal-hal lain yang menjadi masalah. Kalaupun tidak ada, pasti akan dicari keberadaannya. Siapa sih yang tidak senang mencari-cari masalah?

Oke, tulisan ini tidak Uum buat dalam rangka memicu amarah, dari kesekian pihak. Uum terlalu lelah menghadapi permasalahan-permasalahan, yang bisa dianggap terlalu sepele, antara muslim dengan umat agama lain. Tak bisakah kita hidup mengurusi urusan agama masing-masing saja? #mulaiKesal

- - - - Mulai dari sini, pendapat Uum dimulai. Pergi jika kau merupakan Muslim yang lemah - - - -
Jadi, terkait isu tersebut, Uum memiliki pendapat yang berbeda. Uum ingin melihat ini dari dua sisi, baik dan buruk. Tentu saja, negara kita tidak dapat dibandingkan dengan negara lain. Dari kebudayaannya saja sudah sangat jelas berbeda sekali. Apalagi, jika kita ingin menyamakan kondisi sikap serta prilaku masyarakatnya. Bukankah jadinya kita tidak adil pada negara sendiri?

Dalam pandangan Uum sendiri, keduanya (baik dilakukan ataupun tidak) memiliki sisi baik dan buruk, juga memiliki tantangannya masing-masing.

Jika dilakukan, keuntungannya, dapat menjadikan suasana Ramadhan yang kondusif untuk umat islam. Suasana Ramadhan yang khusyuk, aman, nyaman dan tentram. Ini membantu yang sudah muslim dari orok, yang mualaf, dan anak kecil belajar tentang Islam dengan nyaman. Tanpa gangguan. Tempat paling nyaman dan aman untuk memperdalam Islam. Tanpa khawatir proses pembelajarannya terganggu oleh gangguan-gangguan kecil seperti tergoda pada makanan yang terpajang di etalase toko atau tidak terbangun kala sahur menjelang. Bahagia sekali bukan?

Jika tidak dilakukan, keuntungannya, kita (tentunya sebagai Muslim) dapat menciptakan diri yang mandiri, diri yang proaktif mencari tahu, diri yang mampu dan percaya diri berkata, "aku muslim." Karena kita, setiap muslim yang tinggal dengan segala hiburan dan keindahan dunia, diminta memilih, mau mengikuti keinginan Tuhan atau keinginan pribadi. Sebagai imbasnya, karena kita yang memilih dan tidak dipilihkan, maka ada rasa bangga di sana. Bangga karena ada rasa, "aku sendiri loh yang memilih untuk puasa, padahal banyak warteg buka di sini. Lihat si fulan aja makan di depanku aku kuat." Bahagia sekali bukan?

Sayangnya, tentu saja, Allah tidak akan membiarkan makhluknya beriman di mulut saja. Allah tentu saja, memberikan kita tantangan. Dimanapun, kapanpun dan siapapun kita. Ini tertulis jelas di:

"Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?"
- Al-Ankabut : 2-3 -

Keduanya (tentu saja) memiliki tantangan masing-masing. Dalam bentuk yang berbeda (sekali lagi) tentu saja.

Ini salah satu tantangan saja. Akibat dari ditutupnya seluruh hiburan itu, tentu mau tidak mau, kita jadi terbiasa dengan kondisi 'dipilihkan'. Mengikuti saja alur yang sudah ada. Berada dalam zona nyaman. Sehingga muncul pertanyaan dalam diri kita, "apakah aku mampu memanfaatkan suasana kondusif ini dengan baik?", " apakah aku sudah memanfaatkan suasana kondusif ini secara maksimal?", " apakah aku bisa menyelesaikan Ramadhanku, minimal, sebaik orang-orang yang tinggal di tempat yang tidak kondusif?" serta pertanyaan penting tentang keimanan kita sendiri, "apakah aku sudah menjadi muslim yang baik, atau aku hanya menjadi muslim yang mengikuti alur?" Krisis identitas keagamaan biasanya cenderung muncul di tempat seperti ini. Padahal, sesungguhnya yang terjadi hanyalah hilangnya keaktifan muslim-nya.

Disinilah tantangan atas kemudahan itu muncul. Bagi muslim yang tinggal di Indonesia, kemudahan memberikan kita tantangan berlebih. Tantangan kasat mata yang malah justru membuat kita luput beribadah secara detail. Pertanyaan selanjutnya adalah, "sudah sejauh dan sedetail apa kita beribadah?" Sehingga, bagi Muslim minoritas di luar sana yang sudah terbiasa hidup sulit mendapatkan segalanya, tinggal di Indonesia terlihat sangat indah.

Sementara, tantangan untuk orang yang tinggal di negara yang berbeda nilai keagamaannya dari Indonesia, tentu saja sudah dapat diketahui, keproaktifan para muslimnya untuk mencari tahu, kesabaran untuk menahan segala hawa nafsu. Mereka tinggal di zona tidak aman bagi para Muslim. Meleng sedikit, terseret. Tidak fokus sedikit, iman melemah. Tidak ada musholla, malas beribadah. Babi dimana-mana, tak ada pemberitahuan, makanan tak halal masuk perut. Tak ada adzan sebagai pengingat, sholat lewat.

Sehingga mau tidak mau, kita merasa wajib membentengi diri, dengan cara? Memperkuat ukhuwah agar terdapat pengingat. Lebih kuat belajar agamanya biar tahu aturan dan tidak salah langkah. Lebih solid pemikiran dan pengetahuannya. Kita merasa "jika aku tidak tahu tentang ini, maka aku akan mengikuti jalan yang salah." Sehingga, bagi kita yang terbiasa memperoleh segalanya dengan mudah, mereka terlihat sangat keren.

Tetap saja, rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput sendiri, bukan?

Nah, sampai di titik ini, mungkin ada baiknya, kita introspeksi saja. Sejauh mana iman membawa kita? Sejauh mana rasa syukur mengendalikan jiwa kita? Dan semudah apa sudut pandang mengantarkan kita pada pengambilan kesimpulan?

Ingat, muslim diuji dengan dua hal, kemudahan yang berlebih atau kesulitan yang berlebih.

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.