Hinata Umi's Work

Sajak Memahami

Hai kau...
Yang ada di seberang pulaau sana..
Yang sering galau karena hal-hal yang kuanggap manis
Yang sering memikirkan hal-hal kecil namun kuanggap lembut
Yang sering memperhatikan dan mengkhawatirkan hal-hal terlewatkan yang kuanggap itu mesra
Yang sring sekali berkata manis yang kusebut itu gombal



Tahukah kau kapan kita akan melihat Pelangi?
Pernahkah kau memperhatikannya?
Semua orang berkata
"Pelangi akan muncul kala hujan reda."
Bagiku tidak seperti itu
Bahkan karena Rinai kecil saja
Pelangi bisa muncul
Tak perlu menunggu Hujan
Apalagi Badai
Tak perlu hal besar untuk mewujudkan bahagia, bukan?

Tahukah kau kapan kita akan melihat Terang?
Pernahkah kau memperhatikannya?
Semua orang berkata
"Terang akan datang kala Gelap sudah menghilang."
Bagiku tidak seperti itu
Bukankah kala gelap kita justru mensyukuri setitik cahaya yang muncul
Tak perlu menunggu Gelap menghilang
Apalagi menanti-nanti Terang datang
Entah kapan Ia datangnya
Tanpa hal buruk kita tak tahu apa itu baik, bukan?

Tahukah kau kapan kita akan melihat Matahari?
Pernahkah kau memperhatikannya?
Semua orang berkata
"Matahari akan terbit kala Bulan tenggelam."
Bagiku tak seperti itu
Berkali dalam setahun kutemukan Bulan dan Matahari bekerja sama di siang hari
Tak perlu menunggu Bulan tenggelam
Bagiku, cahaya bulan saja sudah cukup untuk menerangi gelap malamku
Ia menerangiku secukupnya
Bukankah yang secukupnya itu lebih baik daripada yang berlebihan?

Hai kau yang ada di seberang pulau sana
Tahukah kau sebenarnya apa yang ingin aku sampaikan dalam sajak ini?
Dapatkah kau mengubahnya menjadi sajak yang sama dengan sajak yang ada di hatiku?
Dapatkah kau memahami apa yang sebenarnya menjadi buah pikiran dari sajak-sajak ini?

Hai kau yang ada di seberang pulau sana
Bacalah dengan sajak hatimu
Karena sesungguhnya apa yang kau miliki dan tidak kumiliki adalah sajakmu lebih lembut dari sajakku
Karena sesungguhnya kau memahamiku dengan sajak lembut itu
Sajak-sajak yang selalu kurindukan
Walaupun aku sendiri tak paham
Apa sebenarnya hakikat merindu itu


**dariku, gadis pecinta sajak**

Tags:

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.