Hinata Umi's Work

Empat Keinginan Besar

Tahun ini, bagiku adalah tahun yang diawali dengan hal yang sungguh absurd. Bukan karena aku yang mengawali dengan pergi ke tanah suci. Keabsurdan yang kurasakan adalah keabsurdan mengenai diriku sendiri. Apa yang aku pikirkan dan apa yang sedang ingin aku perjuangkan. Lucu dan aneh. Tapi layak untuk diperjuangkan.

Mungkin postingan kali ini akan sedikit berbeda dengan post-postku di tahun sebelumnya mengenai awalan tahunku. Di sini akan kujabarkan sedikit mengenai apa yang akan aku perjuangkan dan menjadi selintas pemikiranku di awal tahun ini :


1. Novel
Jangan tanya berapa banyak draft novel yang sudah aku mulai. Namun, jangan tanya juga berapa jumlah draft itu yang selesai. XD Waktuku selama liburan ini terlalu banyak disibukkan dengan procrastination. Banyak banget. Enggak sia-sia sih waktunya. Banyakan kuhaiskan dengan baca buku, menggambar, nonton, baca buku lagi. Akhirnya, ga ada yang selesai. Ini buruk! Ga baik untuk kesehatan. Padahal targetku, awal tahun ini novel-nya udah selesai sampai minimal 8/14-nya. Nyatanya? Nothingness XD aku lebih tergoda dengan melakukan hal lain, dibanding menyelesaikan draft novel-ku. Sampai-sampai orang yang bersedia untuk mengerjakan bagian pengeditan berulang kali mengingatkan aku untuk melanjutkan chapter 5 yang tertunda XD

2. Desain Fashion Muslimah
Yang Ini? Yah lebih berlanjut sih dibanding Novel. Konsisten tiap bulan masih menghasilkan karya yang baik. Wkkwkwk walaupun belum didigitalisasi dan diwarnai. Konsistensi ini yang paling penting dibandingkan yang lain. Namun, sayang seribu sayang, modal untuk mewujudkannya menjadi desain yang jadi dan siap untuk dikenakan muslimah nusantara masih belum cukup. Kalau mau lebih diperjelas bahkan belum ada. 

3. Gelar Sarjana-ku
Apalagi yang ini. wkwkwk Niatnya sih, tahun ini harus selesai. Masih banyak hal yang harus dipersiapkan termasuk apakah aku siap atau enggak untuk memulai penelitian dan konsisten menyelesaikannya. Aku sudah tahu apa yang akan aku pilih. Aku sudah tahu apa yang akan aku kerjakan. Aku sudah tahu topik apa yang akan aku ambil. Hanya saja aku masih belum paham, Akan seperti apa nantinya mini-researchku nantinya. Khawatir? Jelas. Takut. Banget. Butuh disemangatin? Sangat. Tapi toh aku enggak bisa menjadikan itu sebagai hal yang menjadi pendorongku. Alasannya sederhana. Aku tidak selamanya memiliki orang-orang yang akan baik ada di sampingku setiap saat. Untuk alasan sederhana seperti itu, Aku ingin menjadi, setidaknya, motivator untuk diriku sendiri. Sederhana bukan?

4. Menikah
(menarik nafas dalam) Hanya satu kata yang dapat mendeskripsikan pertanyaan "kapan menikah?" dan pertanyaan (baik) dari para sahabat, keluarga, maupun teman-temanku tentang pasangan. Menunggu. Menunggu apa? Menunggu jodohnya dateng lah XD Masa nunggu monyet. Ogah!! wkwkkw (menarik nafas dalam, lagi) Keinginan ini sebenarnya sudah sangat lama aku pendam di dalam hatiku. Tak sedikitpun kuungkapkan kepada ayah dan mama, sampai akhirnya mereka membuka percakapan terlebih dahulu, mungkin setahun yang lalu. Tanpa sepengetahuan mereka, keinginan ini sudah lama terpendam di dalam hatiku. Berbagai sajak pernikahan sudah berkali kulantunkan sejak usiaku menginjakkan kaki di SMA. 

Keinginan itu juga semakin kuat menancap ketika aku akhirnya menapaki tahun keempat di masa kuliahku. Tanpa sadar, mataku dan hatiku sering memperhatikan pria-pria di sekelilingku. Karakter pria seperti apa yang aku inginkan menjadi ayah dari calon anak-anakku kelak (Insyaa Allah). Mencatat baik-baik karakter-karakter itu di hatiku. Mencatat dengan sungguh-sungguh perlakuan-perlakuan mereka. Bukan untuk memasukkan mereka ke dalam daftar calon suami, catatan itu lebih kepada catatan kriteria suamiku kelak XD

Keinginan itu juga membuatku mencari tahu dan belajar mengenai smart parrenting. Mencari tahu lebih jauh bagaimana cara terbaik mendidik anakku kelak. Menjadikannya salah satu dari pejuang muslim yang luhur budinya, cerdas pemikirannya, dan bersemangat serta bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Berbagai seminar smart parrenting kuikuti. Dari model pendidikan konvensioanl di sekolah umum, sampai pada sekolah jenis baru yang bernama home schooling ku pelajari efeknya. Niatnya hanya satu, agar nanti aku sudah tahu sekolah seperti apa yang akan membantu anakku mewujudkan dunianya.

Bahkan keinginan itu juga membuatku mempelajari hal-hal yang selama ini membuatku bosan, seperti belajar menjahit, merajut, masak, dan membersihkan rumah. wkwkwkwk Aku juga belajar bagaimana caranya beradaptasi pada lingkungan baru. Mencintai tempat baruku serta membuatnya menjadi sebuah tempat yang menyenangkan untukku. Yah... semuanya itu kulakukan demi mewujudkan mimpiku untuk menjadi istri sholehah yang dicintai suami dan anak-anaknya. Wkwkwkwk. Tapi mungkin ini akan ditunda sampai Allah nemuin aku dengan orangnya.


Dari semua hal itu, aku tidak akan membuat target lagi. Dari tahun ke tahun aku selalu membuat target atas keempatnya dan selalu berakhir tak sesuai harapan. Mungkin akan lebih baik jika aku mulai untuk tidak menargetkan 'kapan'. Akan lebih baik untukku untuk menargetkan usaha apa yang akan aku capai untuk segera ke sana. 

Last but not least :
"Semua hal selalu berawal dari langkah pertama dan dalam hal apapun langkah pertama selalu menjadi yang paling berat."

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.