Hinata Umi's Work

Kacau

Sebenarnya, banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi terkadang, mulut ini terkunci. Melihat wajahmu saja rasanya sudah cukup untuk membuyarkan seluruh kata dan tanya yang telah kususun berhari-hari lepas untukmu. Entahlah, aku sendiripun tak paham dengan apa yang terjadi. Wajahmu, sungguh, membuyarkan segalanya.

Segala inginku, mimpiku, citaku. Semuanya buram kala melihat senyum sendu di wajahmu.

Satu bulan yang lalu. Hari itu, adalah hari dimana semuanya terasa membingungkan untukku. Kacau. Tak ada kata lain yang dapat menjelaskan bagaimana perasaanku saat itu. Kalimat itu kau ucapkan dengan seluruh beban hati yang kau tanggung saat bersamaku. Apa kau tahu, apa yang membuatku sangat kacau saat itu? Wajah sendumu, wajah takutmu, wajah khawatirmu, dan beratnya wajahmu kala mengatakannya. 

Ya, kau mengucapkannya dengan tersenyum. Tapi tak manis. Kau mengatakannya dengan senyum. Tapi tak indah. Itu senyum terberat selama beberapa tahun aku mengenalmu. Senyum sedih. Senyum terluka. Sungguh, perasaanku, egoku, pride-ku tak terima melihat wajahmu yang seperti itu. Sungguh pula, aku meragukan kalimat itu keluar dari hatimu. Semuanya masih tak jelas saat itu untukku. Tak ada kejelasan. Aku teringat masa laluku. Kacau. Hanya itu yang mampu aku deskripsikan dari hatiku sendiri.

Tiga minggu lalu, semua hal yang kurasakan semakin kacau. Aku jahat. Aku jahat. Aku jahat. Dua kata itu yang selalu kurapalkan setiap saat. Tak ada kata lain. Aku merasa sangat jahat telah meletakkan seluruh kesedihan itu di wajahmu. Tatapan matamu yang tak kuasa menatap manik mataku. Kesedihan yang kuposisikan terus menerus di wajahmu. Di hatimu. Tahukah kau betapa menyakitkan melihat itu semua? Aku tahu, aku harus jujur padamu! Tapi bagaimanalah, hatiku terlanjur kacau. Hatiku tak mampu menuntunku pada kebiasaanku berpikir logis. Hatiku hilang arah. Sekali lagi, yang kurasakan hanya kacau. Buyar semua mimpi dan anganku tentang 'sahabat'. Sungguh, aku bingung, khawatir, takut. Membayangkan kemungkinan aku harus kehilangan seseorang sekali lagi, membuatku ngeri. Nyeri rasanya. Kau tak pernah merasakan itu kan?

Dua minggu lalu, mataku mulai jernih. Hatiku mulaai bersih. Tenang. Yah... aku sudah mulai tenang. Kau tahu kenapa? Alasannya sederhana, Akhirnya aku paham dengan apa yang kurasakan padamu. Semua perasaan itu, kekhawatiran itu, ketakutan itu, rasa nyeri dan perih itu, dan rasa membuncah yang kurasakan. Aku mulai paham. Tapi, bagaimana menyampaikan semuanya padamu? Bagaimana? Sungguh, rasa ini menyesakkan. Aku tak mungkin menyampaikannya. Tapi itu membuatku sangat berat. Lebih terbebani daripada saat aku mengetahui perasaanmu. Kau bertanya mengapa aku murung? Inilah jawabannya. Aku menahan sesak. Namun, biarpun aku menyampaikan itu semua padamu, aku masih tak tahu dengan apa yang harus kulakukan setelahnya. Karena itu pula, semakin berat rasanya aku bertemu denganmu. Semakin bingung pula aku, Bagaimanalah aku harus menghadapi orang yang jatuh cinta? Sedang aku sendiri merasakan perasaan yang sama.

Satu minggu yang lalu, setelah akhirnya aku tak tahan lagi. Setelah semuanya terasa semakin berat dan tak dapat kutahan. Lega. Kuungkapkan semuanya padamu. Lega. Namun, muncul perasaan khawatir baru. Kau tahu? Aku terlalu berbunga-bunga sampa lupa memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Bodoh! Sangat bodoh sekali aku saat itu. Mengatakan semuanya tanpa memiliki perencanaan yang matang. Bodoh! Sangat bodoh. Jadilah aku hanya menikmati apapun yang kau berikan padaku. Jadilah aku wanita lelah yang takut akan masa depanku sendiri. Hilang sudah ketangguhanku. Bersandar aku padamu. Berharap kau tak berdusta saat menyajikan seluruh keindahan masa depan yang luput aku pikirkan. Mengganti masa depan yang luput kupikirkan itu dengan masa depan yang kau hidangkan. Sungguh lezat. Kau tahu?

Kini, tidak! Aku sudah punya rencana untuk kehidupanku. Kau tahu? Kebodohanku adalah dengan mengatakan semua hal itu tanpa merencanakan kehidupanku sendiri. Aku lupa saat itu, bahwa kau bukan satu-satunya kemungkinan. Bahwa mungkin saja bukan kau. Ya, ternyata aku memang tak pernah bisa tanpa merencanakan sesuatu. Kau pasti sungguh paham bukan? Jika ada plan A, maka harus selalu ada plan B. Maka itu yang kulakukan. Mempersiapkan hati jika memang bukan kau orangnya. Terlalu berharap padamu saat ini hanya akan membunuhku perlahan. Dan aku masih ingin hidup untuk menatap masa depanku sendiri. Akan bersamamu kah? Atau bersama yang lain.

Wahai... cerita ini belum berakhir. Kau tahu benar akan hal itu. Justru ini awal. Kitalah yang akan menentukan akhirnya. Karena itu, janganlah menyerah, akupun tak akan menyerah berusaha merangkai pena dalam cerita ini. Semoga harapku tak sia-sia.

Share:

1 komentar

  1. Di titik ini, wahai gadis tangguh. akhirnya, kau tak bersamanya. Ada banyak hal yang terjadi. Tapi, dia bukan lagi yang kauimpikan. ada yang baru dan dia lebih mengerti dirimu. Dia lebih menyayangi dirimu bahkan dari dirinya sendiri. Meski begitu, kau tak perlu khawatir, karena kali ini, pria ynag kini jadi suamimu itu, selalu berusaha untuk menyeimbangkan kebahagiaan kalian.

    BalasHapus

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.