Hinata Umi's Work

[REVIEW] Buku: Kami Lintang - Yunita R. Saragi

 




Identitas Buku

  • Judul: Kami Lintang
  • Penulis: Yunita R. Saragi
  • Penerbit: Loka Media
  • Tahun: Indonesia, 2019
  • ISBN: 978-602-5509-62-9

Blurb

Hidupku bedebah. Maka terkadang, tanpa sengaja aku sering melakukan semacam improvisasi. Biar semua kayak baik-baik saja.

Baik-baik saja? Apa sebenarnya arti kata-kata itu? Baik dan nggak baik, keduanya acap kali bertukar posisi. Seperti sebuah benda pengecoh optik. Kaulihat dari kanan, itu hanya satu segitiga. Kauputar ke arah berbeda ternyata dua segitiga. Satu segitiga atau dua segitiga? Atau sama sekali bukan segitiga?

Sebenarnya, aku punya banyak teman. Lalu apa yang harus kukhawatirkan?

Meredith, Jaka, Bunda Retno, Civa, Felixia, Sylia, Adrik, juga Paman Weirdo. Tentu nggak ada yang dikhawatirkan kalau mereka itu orang-orang biasa. Bukan berupa potongan identitas di dalam kepalamu ....


Review

Sejak 'sembuh' dari anxiety disorder tahun 2013 lalu, Umi sangat tertarik dengan isu kesehatan mental. Umi ikut pelatihan peer counselor di kampus, belajar teknik-teknik pengendalian diri, sampai membaca buku-buku yang membahas tentang isu ini. Umi lupa kapan tepatnya buku ini menarik perhatian Umi, tapi yang jelas yang membuat Umi memutuskan untuk membelinya adalah isu yang diangkat. DID, dissociative identity disorder.

Bukan isu baru, tapi juga bukan isu yang sering diangkat di novel Indonesia.

Apa itu DID?


DID adalah sebuah gangguan yang ditandai dengan keberadaan dua atau lebih kepribadian yang berbeda dalam satu tubuh. Penyebabnya bisa banyak, tapi yang paling umum adalah trauma. Secara konteks psikologi, DID sendiri merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri seseorang saat menghadapi trauma, kenangan buruk, atau hal yang menyakitkan. Kalau pernah nonton film Split (2017)—bisa ditonton di Netflix—teman-teman akan familiar dengan jenis gangguan ini.

Lintang dan Hidupnya yang Bedebah


Jangan marah, ini bukan kata-kata Umi. Lintang, si tokoh utama novel ini yang mengatakannya. Dia bilang, hidupnya bedebah. Maka terkadang, tanpa sengaja dia melakukan semacam improvisasi. Biar semua kayak baik-baik saja. [Info di blurb]

Novel ini berkisah tentang Lintang dan sistem rumah pohon yang diterapkannya untuk mengendalikan kepribadian-kepribadian yang ada di kepalanya. Kata Lintang, dia punya banyak teman. Tapi teman-temannya ini dianggap 'aib'. Bahkan, Lintang pernah ikut kegiatan pengusiran setan karena teman-temannya ini. 

Kalau kalian berharap buku ini menceritakan perjuangan Lintang untuk menyembuhkan diri, kalian salah. Karena dari awal cerita pun, Lintang sudah berdamai dengan keramaian di kepalanya. Ada masalah lain yang lebih serius yang harus ditangani Lintang, yaitu ...

... beli bukunya, ya, bisa pesan ke Kak Yun melalui FB atau IG-nya. (Yunita R. Saragi)

Sistem Rumah Pohon dan Mengapa Buku ini Menarik


Dari banyak film dan buku yang Umi baca, teman-teman yang memiliki DID selalu digambarkan dengan cara yang gelap. Entah dia sebagai psikopat, dia sebagai pembunuh berantai, dia sebagai orang yang tidak bisa mengendalikan diri, dan beberapa label lainnya, yang jujur saja membuat Umi agak sedih. 

Padahal, orang yang memiliki DID harus berkutat dengan trauma serta pribadi-pribadi menyeramkan di kepalanya. Misalnya saja Lintang, dia memiliki hampir sepuluh alter di dalam Inner World-nya (nama lain untuk Rumah Pohon yang diciptakan Lintang). Bayangkan saja, setiap hari kamu mesti menghadapi sepuluh hantu (Umi sebut mereka hantu untuk menyederhanakannya, tapi please keep in mind mereka ini adalah bagian dari diri Lintang yang terpecah saat trauma terjadi) yang saling sahut-menyahut di dalam kepalamu. Itu belum jika salah satu dari mereka tahu-tahu mengambil alih tubuhmu. Dan, kamu, sebagai pemilik tubuh, tidak tahu apa yang dilakukan mereka. Frustrasi enggak tuh.

Sudah harus menghadapi 'hantu-hantu' itu, kamu juga masih harus menghadapi cemoohan orang-orang. Apa enggak lelah?

Makanya, buku ini menari sekali buat Umi. Penulis membingkai orang dengan DID sebagai manusia kompleks lengkap dengan berbagai masalah kehidupannya. Penulis menggambarkan Lintang sebagai gadis baik hati dengan berbagai trauma yang dia miliki. Kisahnya, kisah ibunya, kisah ayahnya, tantenya, terapisnya, semua berbaur menjadi satu dan berpusat di Lintang.

Meski masih banyak perdebatan mengenai metode Rumah Pohon (atau Entropy System), buku ini mampu menunjukkan dengan cara yang layak seperti apa isi kepala dari orang dengan DID. Bagaimana cara mereka berkomunikasi, bagaimana mereka saling mengarahkan, bagaimana mereka bertindak, dan itu sangat Umi acungi jempol. Risetnya enggak main-main, dan meski masih ada beberapa kekurangan, Umi puas membacanya.

Penutup


Overall, Umi memang puas banget membaca buku ini. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dikembangkan lagi, tapi segini saja pun sudah cukup untuk bisa menghapus stigma terhadap orang dengan DID. 

Umi sangat berharap novel ini bisa lebih populer lagi di kalangan pembaca. Sayang aja gitu buku sebagus ini, enggak dapat buzz yang layak. 

Sekian reviu dari Umi, semoga buku ini besok atau lusa ada di lemari kalian XD

Salam,
Umi

Tags:

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.