Hinata Umi's Work

[About Me] Bagaimana Rasanya Menunggu Suami Ijab Qabul




Beberapa teman Umi bertanya, gimana perasaan Umi saat menunggu suami ijab qabul dengan ayah. Umi bingung ngejawabnya.

Bukan apa-apa, masalahnya, ijab qabulnya udah dari dua tahun yang lalu!!

Gimana cara Umi menjawabnya coba? Duh... ?‍♀️?‍♀️?‍♀️

Umi coba pikir lagi, pusing kepala lagi. Maka mungkin yang akan Umi ceritakan hanya sebagian kecil rasa yang muncul di antara begitu banyak rasa lain.

Pagi itu, hari Jum'at, tanggal 9 September 2016.

Umi bangun pagi. Sesuatu yang sangat jarang Umi lakukan. Jam 3 shubuh sudah dibangunkan untuk dirias. Kebaya yang harus Umi kenakan sudah disiapkan. Air mandi Umi (air hangat dengan wewangian dan kembang) juga sudah disiapkan. Tubuh Umi masih lelah sebenarnya. Masih tersisa kelelahan acara seserahan dan Malam berinai yang membuat Umi harus tidur di atas jam sebelas malam.

Umi mandi dengan air yang disiapkan. Katanya supaya wajahnya mangling makanya harus ada wewangian dan kembang. Umi nurut saja. Semuanya Umi serahkan ke Allah. Tak ada niat dalam hati untuk syirik yang penting.

Selesai mandi Umi dibantu mengenakan kebaya sama bidan pengantin. Dipijet-pijet dulu bagian wajah dan punggung. Katanya sih totok aura dan totok wajah. Saat si Bu Bidan akan mencukur alis, Umi tolak. Satu-satunya yang Umi tolak adalah cukur alis. Masalahnya ini pusat dari Karisma Umi ?

Saat didandani, beberapa kali muncul pikiran seperti, ini sudah benar tidak ya?, apa keputusanku menikah salah?, apa suamiku orang yang baik?, bahkan sampai pada apa aku kabur saja ya?

Syukurlah tak satypun dari pikiran itu yang menghalangi proses pernikahan kami.

Setelah selesai dirias, Umi bertemu sebentar dengan salah satu dosen, yang juga ibu dari sahabat karib Umi, yang datang jauh dari Jakarta untuk minta wejangan atas perasaan-perasaan buruk itu.

Terutama dari perasaan 'ingin kabur' saat itu juga.

Lalu, si Ibu dosen Umi yang baik hati itu bilang, " hari ini, akan selalu ada dua pilihan untukmu. Apapun itu, pilih bahagia. Keluhan orang akan sampai dari kanan dan kiri, ketidakpuasan juga begitu. Kau akan diserang dari segala penjuru, Nak. Maka dari itu, pesan bunda, selalu pilih bahagia."

Begitu kira-kira pesan beliau.

Maka hari itu, Umi tidak lagi merasa khawatir, takut deg-degan. Dengan memegang wejangan itu, Umi berjalan menuju tempat akad, memandang (calon) Suami Umi yang sedang memandang Umi dengan senyum penuh cinta, lalu tersenyum.

Aku akan baik-baik saja.

Begitulah yang Umi lakukan.

Bahkan ketika suami mengucapkan kalimat akad dengan lancar dan satu helaan napas, Umi tak merasakan apapun selain kebahagiaan.

Jadi, begitulah teman. Nasihat dari bu Dosen Umi sebenarnya sampai sekarang Umi praktikkan. Karena itu berlaku umum. Jika Umi berada dalam kondisi buruk, Umi selalu pilih apapun yang bisa membahagiakan Umi.

Alhamdulillahnya suami Umi mengerti itu.

Hohohoho

Jadi, apa yang membuat kalian bahagia?

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.