Hinata Umi's Work

[Random Thought of Mine] Kutukan Ilmu



"Ilmu padi, makin berisi makin merunduk"
-Anonymous-

* * *
Pernah gak sih, kalian serasa ingin menyebarkan dan meluapkan ilmu yang kalian punya? Pernah ga rasanya sebaaal sekali saat ada yang menyalahi aturan ilmu yang ada? Pernah gatel banget pengen ngekoreksi tapi berakhir cuma dengan marah-marah?

Pernah ngeliat orang yang bicaranya sinis banget sama kita-kita yang belum paham? Pernah ga sih ngerasa kalau ilmu kita masih ceteeek banget dibanding para master? Pernah ngerasain pengen banget nunjukin karya kita tapi kita takut salah?

"Ih, gitu doang ga bisa?"

"Masa kayak gitu gak mampu?"

"Ini mah kecil, gampang!!"

"Makanya baca!"

"Aduh karyaku hanya bagai sebongkah semut!"

Wah hati-hati, jangan-jangan kamu sedang terkutuk! Kena kutukan ilmu maksudnya, hehehe

* * *

Hal-hal yang kalian rasakan di atas, adalah hal-hal yang terjadi ketika kita terkena kutukan ilmu pengetahuan.

A. Apa itu Kutukan Ilmu?

Kutukan ilmu adalah fenomena bias yang terjadi atas ketimpangan ilmu di antara dua kubu. Orang yang terkena kutukan ilmu, biasanya menganggap orang lain seharusnya sudah paham hal-hal dasar mengenai ilmu yang dipahaminya.

Fenomena ini sering terjadi saat di kelas-kelas, forum keilmuan, atau media pembelajaran lainnya. Contoh paling mudah adalah saat ada seseorang yang dengan gampang mengatakan, "Gitu aja kok ga bisa?"

Ketika seseorang mengatakan hal tersebut, dia berasumsi bahwa lawan bicaranya seharusnya memahami hal-hal yang sudah dia pelajari. Menganggap seseorang memiliki tingkat keilmuan yang setara dengan dirinya. Dia mendadak amnesia dengan segala proses yang pernah ia lakukan.

Nah, sayangnya, kutukan ilmu ini bukan hanya terjadi di kalangan orang yang memiliki ilmu. Ini juga terjadi di kalangan pemula. Saat mereka mulai merasa lebih tahu dari pemula lainnya. 

B. Apakah itu bahaya?

Oh, berbahaya sekali, kutukan ilmu ini sangat besar kemungkinannya memperbesar gap ilmu di antara peserta forum.

Kenapa?
  1. Membuat peserta forum jadi malu bertanya, takut mendapat stigma 'bodoh', 'salah tangkap' dan sebagainya.
  2. Membuat guru, master, atau narasumber tidak memahami bahwa ilmu yang dia bagikan tidak sampai kepada peserta atau lawan bicara.


(Ingat, di kelas sering diem pas guru nanya?)

Kedua lingkaran di atas terus berlanjut hingga akhirnya, yang pintar makin pintar karena mereka saling berdiskusi (di titik ini si pemilik ilmu hanya melayani ocehan pemilik ilmu lainnya). Yang pemula, semakin terpuruk, dan (kadang ekstrimnya) mundur dari ladang ilmu. (Di titik ini, pemula mundur karena merasa semakin jauh dari ilmu yang ingin dicapai dan semakin tidak paham dengan obrolan para pemilik ilmu).

Sekarang, adakah teman-teman di sini yang merasakan hal yang serupa? Yuk, sharing di sini pengalamannya~

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.