Hinata Umi's Work

[TRAVEL] Galeri Nasional : Aku Dipenogoro

"Dan ketika bumi berputar pada porosnya. Dan ketika kehidupan berjalan dengan seimbang. Dan ketika matahari, bumi dan bulan tidak menentang kodratnya. Keindahan inikah yang membuatmu lalai, Um?"

- Murobbi pertamaku, Kak Fida -

Kalimat itu pertama kali terucap oleh bibir seorang wanita perkasa yang kini tak tahu di mana rimbanya. Aku pertama kali mengenalnya saat kelas 1 SMA. Di Medan tentu saja. Itu pertama kalinya aku mengenal dunia tarbiyah. Dunia yang dijauhkan dariku karena memang kondisi pada saat itu sangat tidak memungkinkan bagi seseorang untuk belajar dan membuat majelis keilmuan. Majelis keilmuan islam terutama. Kondisi masyarakat masih paranoid dengan sistem pemerintahan orde baru yang 'menghabisi' semua kegiatan-kegiatan yang dianggap 'memberontak'. Tak terkecuali orang tuaku. 


Pada masa orde baru, kegiatan keagamaan yang diperbolehkan saat itu hanya sebatas mengaji TPA dan belajar membaca Al-Qur'an. Selebihnya seperti kajian ayat-ayat suci, atau kajian keislaman, hanya dapat kami nikmati di televisi. Itupun yang sudah di sensor oleh pemerintahan. Beruntung aku memiliki ibu, ayah dan dua orang nenek yang cukup paham mengenai agama ini, sehingga aku tidak berada jauh dari lingkaran keislaman yang baik, meski mereka termasuk ke dalam jajaran golongan masyarakat yang paranoid terhadap kajian. Setidaknya menurutku.

Kak Fida, begitu biasa aku memanggilnya. Beliau selalu berkata, "Um, rapilah sedikit jika bejilbab! Kau ga mau kan, kalau teman-temanmu yang baru belajar malah ngikutin jilbabmu yang cemong-cemong itu.!" wahahahah, ya! Aku mengakuinya. Gaya berjilbabku saat SMA sungguh luar biasa! Pelan-pelan, aku memperhatikan beliau berjilbab. Manis. Terlihat sangat elegan. Terlihat sangat lembut. Terlihat sangat bijaksana. Terlihat sangat mempesona. Setidaknya untukku yang (juga) baru belajar.

Kak Fida. Aku ingat setiap kali pertemuan kami, di sela-sela menunggu teman-teman lain datang, ia selalu membuka buku. Buku yang sangat menarik untukku yang memang sudah sangat tertarik pada lukisan sejak kecil. Pernah aku bertanya pada beliau, "buku apa itu kak?" dan beliau menjawab dengan sangat lembut, "ini buku kumpulan lukisan karya M. Affandi, Umroh tahu?" Ya! Aku mengetahui Affandi. Aku mengagumi karya beliau. Karyanya yang terinspirasi dari pelukis maestro lainnya, L. Van Gogh. 

Kak Fida. Melalui beliau, aku menumbuhkan kebiasaan baru. Melukis. Menumbuhkan dan mengembangkan bakat baru. Menggambar. Hingga suatu hari ia bertanya, "apa yang sedang kau gambar?" disela pertemuan kami sembari menunggu kedatangan teman lainnya yang seperti biasa, harus menyelesaikan kegiatan ekskul terlebih dahulu. Aku menatapnya dengan pandangan polos, "Ini?" Aku menunjuk pada lukisanku yang setengah jadi, "ini, Umroh belajar bikin orang kak."

Karena kak Fida, yang sekarang entah ada di mana dan tinggal di mana dengan suaminya, aku mencintai dunia lukis. Membuka diri terhadap seni. Pernah suatu kali aku bertanya padanya, "Kak, bukankah kita tidak boleh melukis? Bukankah kita tidak boleh bikin gambar orang? Bukankah Allah tidak suka seni?" Kak Fida menjawab dengan senyum lembutnya, "kata siapa? Allah menyukai keindahan Adekku. Allah mengatur segalanya dengan indah. Allah sangat menyukai keindahan." Lalu aku menjawabnya dengan lantang kembali, "loh, tapi kan kita ga boleh bikin patung, tato, bermusik, dan lain-lain. Bukannya secara ga langsung, Allah ga suka seni?"

Kak Fida tertawa geli mendengar jawabanku, bahkan sekarang saat aku mengingat kembali pertanyaan itu, rasanya geli sendiri. Lalu dengan lembut ia kembali menjawab, "Dekku, Allah mencintai keindahan. Itu terbukti dengan istananya nabi Sulaiman AS yang penuh dengan pahatan indah. Allah mencintai keindahan, maka dari itu, ketika kau lihat bintang di langit kau merasakan keindahan-Nya. Bukankah alam bergerak selaras? Bukankah definisi surga adalah keindahan? Bukankah Allah menjanjikan keindahan abadi di surga nanti? Bukankah esensi dari seni adalah keindahan? 

Jangan hanya karena Allah melarangmu bermusik, kau melupakan bahwa Allah meminta kita melagukan firman-Nya. Jangan karena Allah melarangmu bertato, lantas kau melupakan kenyataan bahwa tato itu menyakiti dirimu. Jangan hanya karena Allah melarangmu bikin patung, kau lupa sejarah apa yang menyebabkan patung itu dilarang. Jangan hanya karena Allah melarangmu melukis, kau melupakan bahwa ada lukisan yang lebih indah daripada lukisan tangan manusia." 

Saat itu aku terdiam. Aku merasa kalimat-kalimat itu sangat keren. Iya, Allah hanya melarang sebagian seni tapi tidak berarti langsung melarang seluruhnya. Keren.

Mungkin.... ehm tidak, mulai dari saat itu, ketertarikanku pada seni meningkat. Melukis jadi hobiku. Namun, aku tak pernah dapat bertandang ke pameran seni manapun. Aku hanya bisa melihat pameran-pameran itu dari katalog-katalog yang kupinjam dari perpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah. Mengkaji mereka satu persatu. Mencoba menjadi detektif, menerka, tujuan dari pelukisnya. Kalau kuingat kembali, sungguh lucu sekali aku saat itu.

Hingga, tahun ini, salah satu author di BOR (yang bisa dibilang jadi senpai~), Heru-san, membagikan informasi terkait sebuah gedung kecil di tengah kota Jakarta yang sedang mengadakan sebuah pameran karya seni bertajuk "Aku Diponegoro", Gedung Galeri Nasional. Bertempat di seberang Stasiun Gambir. 

Ini adalah pertama kalinya Uum akhirnya menghadiri sebuah pameran. Yap! Pameran seni sungguhan! Bukan cuma pameran di dalam buku katalog. Pameran yang membuat Uum takjub. Banyak hal baru di dalam sana. Uum baru tahu ada karya seni yanng disebut instalasi. Sebuah karya seni yang terdiri dari banyak sekali barang-barang yang disusun sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tema. Lukisan. Seni kontemporer (yang ini ga ngerti artinya apa). Foto. Bahkan benda seperti tongkatpun bisa disebut karya seni. 

Kaget. 

Takjub.

Penasaran.

Dari bapak satpam yang menjaga di dalam ruangan, Uum juga diceritakan sedikit sejarah mengenai Pangeran Diponegoro. Bahkan bapak tersebut bisa menjelaskan maksud dari beberapa lukisan yang Uum perhatikan. Si bapak cuma tersenyum sambil bilang, "daripada eneng neleng-neleng begitu kepalanya, mending sini bapak kasih tahu, maksudnya apa!" wkwkwkkw

Pengalaman baru. 

Dan sangat menarik.

Oke, karena ini tulisan mulai ngelantur, Uum kasih aja beberapa hasil jepretan Uum saat main ke Galeri Nasional.

Foto yang ini sebenarnya karya instalasi, sejujurnya Uum enggak tahu maksudnya apa. Cuma beberapa panel yang bisa Uum hubungkan sama kisah pangeran Diponegoro, sisanya? nebak xD

Yang ini apalagi! Yang instalasi di atas aja Uum enggak tahu artinya apa, apalagi ini xD sama buruknya. Uum enggak ngerti keterkaitannya sama Pangeran Diponegoro. Ada yang bisa ngasih tahu?

Waktu kesini untuk yang kedua kalinya, Uum dikasih tahu sama Ann kalau karya ini punya arti segitiga sesuatu, kalau ga salah inget  ada harapan-kematian dan... nah yang satu lagi Uum lupa. Karya yang ini terinspirasi dari dua karya lainnya. 

Percaya enggak, karya yang ini terdiri dari foto-foto kecil yang disusun sedemikian rupa sehingga berbentuk gambar lukisan penangkapan pangeran Diponegoro loh! Katanya yang jaga, itu foto-foto terkait sama pangeran Diponegoro juga, yang Uum enggak ngerti letak keterkaitannya di mana >.<

Kenapa berasa pendek dan gemuk banget ya di sini? =.=a
Nah, panel ini kalau dipecah, akan berubah menjadi panel-panel pada foto di bawah, keren banget ga sih?

Setiap panel di dalam foto ini jika digabung akan membentuk panel yang ada di foto di atas (kalau minus Uum)

Ini tuh merupakan karya seni instalasi, sama kayak foto nomor 1 dan 2. kalau dilihat dari samping, bentuknya jadi seperti foto di bawah.

Uum lupa ini karya judulnya apa, tapi instalasi yang satu ini berasa keren dan serem!

Nah, harusnya ini Uum taruh di atas. xD

Bagi yang mau kesini, silahkan naik busway turun di Gambir. Untuk yang dari Depok, Uum sarankan naik komuter turun di Stasiun Juanda. Dari situ, jalan kaki deh. Ga jauh kok. Posisinya tepat di seberang stasiun Gambir.

Oh iya, Galeri Nasional ini, menurut Heru-senpai, mengadakan pameran setiap sebulan sekali dengan tema yang beda-beda. Untuk bulan ini temanya "NALAR I SENSASI I SENI". Silahkan berkunjung~~

Ah terakhir, entahlah kak Fida masih inget atau tidak dengan Uum, dari tulisan ini, Uum ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena sudah mengenalkan Umroh dengan dunia ini. Dunia yang satu ini, sungguh, membantu Umroh melembutkan hati. :)

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.