Tulisan ini sebenarnya hanya satu dari sekian tulisan yang ingin aku ceritakan kelak kepada anak-anakku. Bahwa menikah bukan hanya tentang kehidupan mereka sendiri. Bahwa mereka harus mempersiapkan segalanya dari awal.
Untuk saat-saat itu, aku ingin sedikit bercerita.
Sewaktu belum menikah, aku adalah seorang gadis yang sangat manja. Aku meminta ini itu dengan mudah ke orang tuaku. Aku tidur hingga siang hari, tidur larut malam. Mandi dan makan sesuka hatiku. Pendapatan yang kudapatkan dari hasil bekerja juga seperti itu, kubiarkan berlalu dan tak tersimpan.
Pernahkah kau merasaka Kopi Pahit, Sayang?
Seperti itulah rasamu, cecapmu.
Pahitmu tak menghilangkan seluruh dahaga dan hasratku
Semakin kuminum, semakinku dahaga
Semakin kucecap, semakinku tersiksa oleh candumu
Pernahkah kau rasa siksa yang seperti itu?
Kau memberikanku energi tambahan diawal
Lalu, menghempasku ke jurang kelelahan yang bertubi-tubi
Kenapa, Sayang?
Kopi itu manis,
Namun manisnya tak mampu menjadikan pahitmu hilang begitu saja
Hilangpun tak membuat hilang akan canduku padamu,
Bagaimana ini, sayang?
Aku, terlanjur, nagih.
Depok, KRL Jakarta Kota 17:49
"Everyday is learning. Everytime is learning. Everything is learning."
- Umi -
* * *
Belakangan ini, aku mulai menyadari perubahan yang terjadi pada diriku. Sebenarnya banyak sih yang berubah setelah menikah. Tapi mungkin aku akan menceritakan setiap perubahan itu satu persatu. Tidak secara sekaligus. Cerita-cerita ini kuharap nantinya dapat menjadi memento yang baik untukku dan suamiku.
Baiklah, aku mulai bercerita, ya?
Suatu hari ketika aku sedang berjalan dengan Mas, ada saat di mana kami akan mencari makanan. Lapar dan memang sudah lewat dari waktu makan siang. Kencan ke sekian yang kami lakukan untuk saling mengenal satu sama lain.
Kala itu, kami sedang menunggu makanan yang kami pesan, siap untuk disajikan di meja kami. Suasana restoran itu sedikit sepi. Aku masih ingat dengan sangat jelas di restoran mana kami makan saat itu. Bakso Lapangan Tembak Senayan. Padahal, sejatinya sih Restoran itu terletak di Detos, Depok.
Sayang,
bolehkah aku meminta hujan padamu?
bukan hujan badai yang menghancurkan
tapi hujan gerimis yang menghapus luka dan lara
Heihowww ....
It's about two weeks ago. I am being married with a handsome-gorgeus-awesome man named Heru Setiawan. If you are a reader who (maybe) regularly reading my blogs, then you should know that, it was my big dreams to be marry in 23.
And ... it comes true.
I am being a wife. How wonderful is that?
Put that aside, this post will not talking about that, I will tell you later. I am sure you won't know about how excited I am in the party and how exhausted is, being in the altar for over 6 hour.
Here, I want to talk to you about, how does it feels being a wife in the first week. (actually it has been more than two weeks, officially. But technically, I am being left with just the two of us, me and my husband, over this week.)
Here we go ...
"Kematian adalah sesuatu yang mutlak akan hadir. Baik itu jaraknya jauh, maupun sudah dekat."
- anonymous -
***
Sudah seminggu lebih aku sakit. Batuk-batuk. Pilek. Pusing. Sulit tidur saat malam hari tiba. Kedinginan atas udara yang, alhamdulillah jika aku boleh berysyukur, sejuk kala malam menjelang.
Sebenarnya, jika diingat kembali, salahku sendiri sakit begini. Seminggu yang lalu, atau 11 hari yang lalu lebih tepatnya. Hujan mengguyur Depok, kota yang kini kutinggali dan menjadi domisili sementaraku.
Hari ini adalah hari pertamaku berhijrah.
Iya ...
Hijrah menjadi seorang gadis yang baik. Berhijab dengan benar. Menutupi auratku dengan benar. Kutatap mataku di cermin dan rasanya teduh. Sungguh berbeda denganku sebelumnya.
Mata liar itu kini tak ada. Senyuman nakal itu kini tak ada. Wajah penuh riasan itu juga kini tak ada.
Aku adalah aku.
Aku menjadi aku.
Sebagai langkah awal ku hijrah ke jalan ini, kukenakan hijab manis pemberian Arisa kemarin. Juga mengenakan kaus kaki pemberian ayah ketika kunyatakan niatku. Sungguh, tak ada hal yang lebih mudah dari segalanya selain melangkahkan kaki menuju jalan-Nya.
Mungkin kau heran. Aku siapa? Mengapa bercerita seperti ini? Untuk apa aku memberitahumu semua hal ini? Iyaa, bukan? Kenapa aku hijrah?
Inilah kisahku. Kisah hati rapuh seorang gadis remaja yang meniti diri untuk kembali ke jalan-Nya.
* * *