Wahai cinta...
apakah kau tahu apa itu rindu?
Aku ingin sekali mengenal arti kata itu. Sedikit saja kuingin paham bagaimana rasanya. Bagaimana rupanya.
Cinta..
tahukah kau bagaimana aku mengatur rindu? Tahukah kau rasa rindu seperti apa yang kurasakan padamu? Ataukah kau tak ingin tahu?
Lelap malam tak mampu membuatku juga lelap
Lelah, aku tahu tubuhku minta untuk diistirahatkan
Tapi otak dan hatiku tak lagi mau berkompromi dengan tubuhku yang sudah lelah
Katakan aku renta, tak apa
Karena aku tahu, fisik ini memang akan renta
Sebenarnya, banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi terkadang, mulut ini terkunci. Melihat wajahmu saja rasanya sudah cukup untuk membuyarkan seluruh kata dan tanya yang telah kususun berhari-hari lepas untukmu. Entahlah, aku sendiripun tak paham dengan apa yang terjadi. Wajahmu, sungguh, membuyarkan segalanya.
Segala inginku, mimpiku, citaku. Semuanya buram kala melihat senyum sendu di wajahmu.
Detik ini, saat ini, apakah yang sedang kau lakukan? Terdiamkah? Membacakah? Bersedihkah? Menunggukah? Tak apa, tak apa jika kau melakukan itu semua. Saat ini, di sini, aku menuliskan pesan padamu. Menuliskan sebait ingin di antara beribu inginku yang kutahan.
Wahai gadis tangguh pembahagia hati-hati yang bersedih, tahukah kau, kali ini, di saat ini, aku sedang sangat bersedih. Bersedih karena cintaku tak dapat kuraih dengan mudah. Tapi... itu tak apa bukan? Bukankah cinta memang seperti itu? Sulit untuk diraih agar ketika kau mendapatkannya kau menjaganya sepenuh hatimu?
Banyak hal di dunia ini yang sangat ku benci. Terlepas dari kehidupanku yang membahagiakan dan selalu dimudahkan oleh Allah. Aku benci dengan pemikiran negatifku yang selalu muncul di saat yang tidak tepat. Aku benci dengan orang-orang di sekelilingku yang sepertinya selalu iri dengan kehidupanku yang dimudahkan. Aku benci dengan sifat-sifat burukku. Tapi, dari itu semua, hal yang paling aku benci adalah berada dalam posisi tidak berdaya. Tidak dapat berbuat apa-apa.
Dulu, aku pernah berada dalam kondisi ini. Kondisi ketidakberdayaan melawan orang-orang yang mem-bully-ku. Waktu SD. Tak urung berkali-kali mama berkata padaku untuk melawan mereka, tapi yang terjadi? Aku malah semakin takut untuk melawan. Semakin menjadi pendiam. Semakin membiarkan mereka merajalela. Pukulan, cubitan, tendangan, ancaman. Sudah menjadi makanan sehari-hariku. Aku terbiasa dengan tidak dapat berbuat apa-apa.
Tahu enggak kenapa kita sholat, yang perempuan harus pakai mukena dan yang laki-laki dibiasakan pakai sarung?
sederhana : karena jaman dulu, perempuan di Indonesia menolak menggunakan pakaian yang menutup aurat. sedang laki-laki terbiasa pakai celana pendek yang di atas lutut. Maka dari itu, pendakwah jaman dulu memberikan Mukena dan sarung sebagai solusi.
Sayangnya entah kenapa budaya itu menjamur dan memberi kesan bahwa kita wajib menggunakan kedua alat itu saat bertemu dengan-Nya. Padahal, asal pakaian bersih dan menutup aurat dengan syar'i (lirik google untuk melihat defenisi hijab syar'i bagi pria dan wanita) kita dapat dengan segera bertemu dengan-Nya sesaat setelah mengambil wudhu
BOYS Point Of View :
Sebagai temen, kadang-kadang, gue enggak ngerti cewek itu maunya apa. Gue jahat mereka marah. Alasan nyebut gue jahat? Ga mau nganterin mereka belanja. Ga mau nemenin mereka ke salon. Ga mau dengerin mereka curhat. Ga mau ngasih pundak buat mereka nangis.
Oke. Gue berubah. Jadi baik. Gue ikutin maunya mereka. Entah sial antau emang nasib, Gue malah disebut PHP. PHP. Sekali lagi gue sebut. Pe-Ha-Pe. Mereka pada suka sama gue. Alasan mereka suka sama gue? Gue mau nganterin mereka belanja. Gue mau nemenin mereka ke salon. Gue mau dengerin mereka curhat. Gue mau ngasih pundak buat mereka nangis.
Arrrghhhhh, maunya apa sih?
Detik saat aku berpikir bahwa segala hal akan sulit, disaat itu pulalah datang kemudahannya
"fainnama'al usri yusra, inna ma'al usri yusra" - "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan pasti ada kemudahan" (Al- Insyirah: 5-6)
*inget pulang ke kosan dengan bayangan mau minum kopi buat begadang ngerjain tugas ML, lalu ternyata mati lampu. Saat berpikir sulit dan mau nangis karena khawatir tugas enggak selesai + belum makan malam juga. detik saat air mata itu akan keluar, lampu menyala.