Tadinya sama sekali enggak niat nge-download ini anime, karena cover-nya keliatan kayak ada adegan-adegan tak pantas gitu. Ga percaya, Look At This one!!!
 |
| salah satu scene di Kotonoha No Niwa |
Kisah seorang siswa laki-laki(Akizuki) yang mencintai guru 'classic literature'-nya(Yukino Sensei). Keduanya saling tak mengenal dan bertemu secara kebetulan di tempat kesukaan Akizuki. Sebuah pondok kecil di dekat danau. Mereka hanya bertemu saat hujan turun. Keduanya tidak banyak bercerita atau berinteraksi. Hanya dalam diam dan sibuk dengan kesibukan masing-masing. Akizuki dengan desain sepatunya. Yukino dengan classic literature-nya.
Sampai 'summer'-pun tiba, keduanya tak punya alasan untuk saling bertemu lagi di pondok tersebut. Keduanya menjalani hidupnya masing-masing. Akizuki dengan sekolahnya dan Yukino-sensei dengan masalah-masalahnya. Akizuki sempat menjanjikan pada Yukino, sebuah sepatu buatannya sendiri.
Suatu hari, Akizuki menemukan kenyataan bahwa yukino adalah seorang guru dari sekolahnya yang memiliki masalah besar dengan beberapa gadis kakak kelasnya. Akizuki akhirnya bertengkar dengan senpainya. Hal ini membuat Akizuki urung memberikan sepatu itu pada sensei-nya tersebut. Akhirnya Akizuki yang memendam perasaan pada Yukino memilih untuk menyatakannya pada Yukino. Akizuki memiliki kesempatan karena kebetulan lagi mereka terjebak hujan bersama dan basah kuyup. Keduanya akhirnya ke rumah Yukino untuk menghangatkan diri. Di situlah Akizuki menyatakan perasaannya pada Yukino. Yukino menolak dengan halus pernyataan Akizuki dan menolak perasaannya sendiri.
Setelah akizuki keluar dari rumah Yukino, Yukino terjebak dengan perasaannya sendiri dan mengejar Akizuki keluar. Berkali-kali Yukino jatuh dan menabrak dinding tak menyurutkan niatnya mengejar Akizuki. Ketika mendapati akizuki masih berdiri tegak di tangga, Yukino terdiam. Akizuki mengeluarkan semua isi hatinya kembali pada Yukino dan Yukino-pun melakukan hal yang sama.
Anyway, I think this anime is not really good to watch. From first to last, I can't tell that this anime have a climax story. Although they have something when akizuki tells Yukino about his feelings, But I expect something more than that.
Walaupun jalan ceritanya cukup mengecewakan bagiku. Paling enggak kejernihan gambar dan detail-detail yang tergambar dengan baik membuat kekecewaan itu sedikit terkurangi. Selain itu, suaranya juga cukup jernih. Ini memperlihatkan bahwa yang membuat anime ini sangat niat menggambarnya. >,< *cowoknya cakep lagi*
Btw, kalau kau nonton anime ini, kita bakal melihat banyaknya scene-scene simbolis, seperti gelas yang jadi tinggal satu saat akizuki meninggalkan rumah Yukino. Atau sepatu yang di pake Yukino, atau hal-hal lainnya. Terlalu banyak malah kejadian simbolis disini. Sejujurnya bagian ini sedikit menghibur :D
Setelah sekian lama uum vakum dari kegiatan desain gaun, outfit dan shirt muslimah, sepertinya uum akan memulai lagi kebiasaan yang sedikit tidaknya membuat uum sedikit bahagia itu. Apalagi uum baru saja menemukan tools yang mudah banget peng-aplikasian-nya untuk men-digitalisasi karya-karya uum itu (mengingat dulu itu banyak banget yang ilang lembarannya karena ga terkordinir tempat penyimpanannya), Sepertinya uum bakalan balik ke masa dimana uum bakal heboh sendiri deh ini mendigitalisasi semuanya. wkwkwk
Gerak langkahku terhenti disini.
Akupun tak tahu...
mengapa aku terhenti?
mengapa aku tak bergerak lagi?
Tak terkunci rasanya kaki ini untuk melangkah.
Tak ada satupun rantai rasanya yang mengikat kaki ini.
Jadi mengapa aku masih bertahan?
Tak ada yang kulihat disini.
Tak ada yang dapat menahan tubuhku untuk bergerak.
Lalu mengapa tubuhku seolah membeku?
Tak terasa tangan ini digenggam.
Tak ada seorangpun rasanya yang menahan.
Jadi mengapa aku tak bergerak?
Teriring salamku padamu wahai cinta. Apa kabarmu disana? Apakah sudah makan? Apakah sedang istirahat? Apakah sedang belajar? Apapun yang sedang kau lakukan disana, kuharap kau melakukan salah satu ibadahmu pada Tuhan. Pada Allah. Apapun yang kau lakukan disana, Kuharap kau sedang mempersiapkan dirimu untuk menyambut diri ini. Kuharap kau sedang mempersiapkan dirimu untuk menghidupi 'kita' nanti.
Wahai cinta... Aku mulai tak sabar untuk bertemu denganmu. Hatiku mulai menghitung detik demi detik demi menit demi jam yang berlalu. Menunggu untuk bertemu denganmu. Siapakah kamu? Bagaimanakah rupamu? Bagaimanakah kiranya sifatmu? Sungguh hatiku sudah tak sabar, bahkan hanya dengan memikirkannya. Aku sudah begitu ingin untuk bertemu denganmu. Sudah begitu ingin untuk menikmati kebersamaanku denganmu.