Hinata Umi's Work

Waktu Mengajarkan Kebijaksanaan

"Coach, kita ga bikin game 3D sejenis DoTa gitu ya? atau Clash Of Clans? It's boring."

- Raphael, 1 SMP, Garuda Cendekia -


---


Kalimat itu, mata itu, tatapan sinis itu. Nada suara itu, bahasa tubuh yang meremehkan itu. Sungguh, untukku, semua hal itu mengingatkaku pada kejadian 5 tahun yang lalu. Di sebuah kelas di tahun pertamaku menginjakkan kaki di Fasilkom UI. Kelas pertamaku belajar programming. Kelas DDP.

Saat itu aku adalah seorang gadis biasa yang ingin serba cepat. Ingin serba instan. Tak kenal usaha. Tak kenal proses. Belajar tetap menjadi hobiku. Namun tidak belajar formal. Duduk di salah satu kelas, menatap ke arah layar proyektor dengan tatapan sinis dan bosan. Mendengar 'ceramah' dari dosen dengan lirikan yang ogah-ogahan. Manja.


Dosenku saat itu adalah seorang dosen favorit di kampus. Dosen yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pendidikan. Dosen yang mengajar dan memberikan cinta pada seluruh mahasiswanya. Dosen yang ketika mengajar, mencari cara paling mudah, agar mahasiswanya mengerti. Dosen yang paham, bahwa mahasiswa tahun pertama sepertiku, tidak tahu apa-apa.

"Pak, jadi, kita tidak membuat aplikasi yang bisa kita klik dan sudah bisa bergerak seperti microsoft word, ya?"

Di tengah salah satu pertemuan, karena aku sungguh sangat boring dengan mata kuliah tersebut, aku bertanya dengan sombongnya kepada sang Dosen. Pertanyaan yang sungguh bodoh bukan? Pertanyaan yang kini, ketika kuingat kembali, rasanya ingin menjitak diriku yang dahulu. Terlalu kekanak-kanakan.

Sejak saat itu, keinginanku, ketertarikanku pada mata kuliah itu menghilang begitu saja. Senyuman dan penjelasan dari sang Dosen tidak begitu kudengarkan. Penjelasan tentang bahwa harus ada proses untuk setiap hal. Termasuk dalam dunia programming. Mimpiku hancur seketika saat itu.

"Um, lo bukan ga bisa! Lo hanya belum tahu. Orang lain bisa karena mereka mulai lebih dulu dari Lo!"

Kalimat itu, ketika diucapkan oleh salah seorang temanku, membuatku sangat marah. Padahal kalau kuingat lagi, kalimat itu memang benar. Ada proses. Tentulah mereka bisa! Mereka mulai lebih dahulu dariku. Mereka mencari tahu lebih dahulu dariku. Tentulah mereka bisa. Aku hanya belum bisa.

Aku bersyukur kini aku mengerti arti kalimat itu. Waktu mengajarkanku bahwa ada maksud positif dari setiap kalimat yang diucapkan seseorang. Walaupun itu terdengar buruk pada saatnya. Kini, ketika salah satu muridku berkata demikian, aku bisa tersenyum dan menjelaskan padanya:

"Yap, kita Belum akan membuat game 3D. Tapi, kita akan membuatnya suatu hari nanti. Nah sekarang, supaya bisa membuat game 3D, kamu harus bisa dulu ngebuat game 2D."

Share:

0 komentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan di atas? Beri komentar di bawah, ya, teman-teman.